Hati-hati, Pemakan Daging Rentan Terkena Penyakit Kardiovaskular dan Diabetes

Hati-hati, Pemakan Daging Rentan Terkena Penyakit Kardiovaskular dan Diabetes

31 Jan 2020

Dokterdigital.com - Meskipun daging merah kaya protein hewani, namun ada potensi bahaya serius yang mengintai jika dikonsumsi terus menerus. Penelitian baru dari Klinik Cleveland menunjukkan bahwa orang yang makan daging merah menghasilkan lebih banyak bahan kimia - dikenal sebagai TMAO - dalam tubuhnya.

Orang-orang yang darahnya mengandung bahan kimia ini dalam jumlah tinggi mungkin berisiko mengalami penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

Dr. Stanley Hazen, pemimpin penelitian, menunjukkan menunjukkan bahwa vegetarian dan vegan cenderung memiliki tingkat TMAO yang lebih rendah dibandingkan orang yang gemar mengonsumsi daging. Ini bisa menjadi salah satu faktor mengapa orang yang mengikuti pola makan nabati cenderung memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit jantung, demikian juga dengan potensi terkena diabetes tipe 2.

"Secara khusus, 3,5 ounce daging merah atau 1,8 ounce daging olahan (misalnya hot dog atau 2 potong bacon) setiap hari menyebabkan peningkatan masing-masing 19 persen dan 51 persen dalam risiko diabetes,” kata Dan Nadeau, ahli endokrin di Hoag Hospital di Irvine, California. "Diet yang kaya produk hewani berkontribusi pada peningkatan risiko kejadian obesitas serta diabetes tipe 2 di Amerika Serikat.”

Selain itu, daging adalah salah satu sumber lemak jenuh terbesar dalam diet khas Amerika. Seperti yang kita ketahui, terlalu banyak lemak ini dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah – suatu kabar buruk bagi jantung.

"Jika mengurangi asupan lemak hewani harian, itu berarti juga mengurangi asupan lemak jenuh," jelas Alice Lichtenstein, seorang profesor nutrisi di Tufts University, Massachusetts.

Berdasarkan bukti yang terbatas, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan daging merah sebagai "mungkin karsinogenik" untuk manusia. Sementara beberapa penelitian menemukan kaitan konsumsi daging dengan kanker pankreas dan kanker prostat, WHO mencatat bahwa hubungan yang paling menonjol telah ditemukan terkait kanker kolorektal.

Namun, peneliti mengaku belum tahu seberapa signifikan tautan ini. Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, mulai dari berat badan hingga bagaimana daging dimasak. Banyak penelitian menyatakan bahwa metode memasak suhu tinggi dapat menyebabkan pembentukan senyawa penyebab kanker.

Inilah sebabnya mengapa metode memasak yang lebih bersahabat seperti merebus dan mengukus direkomendasikan ketimbang dipanggang dan digoreng. Juga disarankan untuk menghindari makan bagian daging yang telah dibakar atau hangus.

Intinya adalah bahwa kita lebih baik menghindari daging olahan yang merupakan jenis yang sangat terkait dengan risiko kesehatan. Adapun daging merah yang belum diolah, para ahli masih membolehkan konsumsi dalam jumlah sedang hingga penelitian berkualitas tinggi memastikan konsumsi daging memang terbukti berbahaya.

Pertimbangkan untuk mengadopsi diet gaya Mediterania, yang mendorong lebih banyak makanan nabati sambil mengurangi daging.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check