Menkes: Angka Stunting Turun, Penyakit Tidak Menular Naik Tajam

Menkes: Angka Stunting Turun, Penyakit Tidak Menular Naik Tajam

01 Nov 2018

Dokterdigital.com -  Meski masih banyak kekurangan di sana-sini, mesti diakui bahwa sistem kesehatan melalui JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang telah diterapkan sejak 2014 meningkatkan harapan masyarakat terkait dengan kesiapan akses pelayanan dan obat-obatan. Dan pada saat yang sama masyarakat menuntut kualitas layanan kesehatan yang baik. Sebagai konsekuensinya, pemerintah punya tugas berat untuk mewujudkan harapan masyarakat ini, demikian disampaikan Menteri Kesehatan RI Nila Juwita Moeloek di acara pembukaan The 5th InaHEA Annual Scientific Meeting 2018 yang dihelat di Jakarta, Rabu (31/10).

Nila menambahkan, selain tuntutan akses pelayanan kesehatan masyarakat, tantangan ke depan yang mesti dihadapi sangat besar, misalnya adanya transisi epidemiologi, hal ini terlihat dari banyaknya penyakit menular menjadi penyakit tidak menular yang juga membuat meningkatnya pembiayaan kesehatannya. "Biaya penyakit tidak menular ini menjadi salah satu yang membuat BPJS Kesehatan (sebagai penyelenggara JKN) mengalami kesulitan, sebab 35 persen belanja BPJS Kesehatan habis untuk manfaat medis dari penyakit tidak menular ini," beber Nila.

Namun demikian, hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 (Riskedas 2018) yang dirilis oleh Litbang Kemenkes memberikan beberapa hasil yang cukup baik terkait dengan status kesehatan masyarakat. "Salah satunya angka stunting turun dari 37,2 menjadi 30,8, kendati masih di bawah angka WHO. Artinya kita masih punya tugas luar biasa untuk menurunkan angka stunting lagi," urai Menkes.

Namun sayangnya, angka penyakit tidak menular meningkat luar biasa. "Untuk diabetes naik dari 6,8 menjadi 8,2.. Peningkatan juga terjadi pada kasus hipertensi dan penyakit-penyakit lain. Angka hipertensi dan merokok pada anak-anak yang sekarang menjadi . Ini tugas berat," beber Nila.

Problem obesitas pada orang dewasa juga meningkat. Hal ini tentu saja berkaitan dengan pembiayaan kesehatan yang membebani pemerintah.

Nila berharap  Inahea ikut membantu mengubah pola pikir kesehatan masyarakat. "Kita harus juga melakukan reformasi di dalam kesehatan masyarakat tidak seperti biasanya karena terlihat pola ini terbukti dengan jelas di dalam hasil Riskesdas 2018," ujarnya.

Perilaku atau perubahan kesehatan masyarakat diharapkan dimulai dari tumbuh kembang anak yang optimal, dengan nutrisi yang cukup dan mendapatkan pendidikan yang baik yang ditunjang oleh sekolah berkualitas, sehingga akan menghasilkan individu yang produktif hingga manula, tidak dibebani dengan penyakit di usia tuanya.

Nila mengharapkan kontribusi InaHEA dengan menggunakan bukti-bukti empirisnya, yang tidak hanya penting untuk proses formulasi kebijakan juga membutuhkan ketepatan intervensi melalui kebijakan kesehatan.

Kontribusi InaHEA

Di kesempatan sama ketua panitia InaHEA Budi Hidayat, menambahkan akhir-akhir ini banyak berita palsu, kebohongan atau hoaks yang terjadi di semua bidang, tidak terkecuali pada bidang kesehatan. "Bahkan di kesehatan berita hoaks tersebut sering kali mendominasi pengambil kebijakan untuk mengambil sebuah kebijakan penting. Sayangnya  hoaks lebih laku dari fakta empiris," ujarnya.

"Pada kongres kelima InaHEA ini, kami hadir mengajukan data-data empiris untuk mendukung pengambil kebijakan dalam merumuskan kebijakan kesehatan nasional," imbuhnya.

Budi menjabarkan, terdapat 4 sesi pada pertemuan tahunan InaHEA. Sesi pertama tentang ekonomi secara global yang bisa digunakan untuk menangkis fakta-fakta miring dengan kajian-kajian akademis. Sesi kedua melihat bagaimana independensi pengambil keputusan untuk memutuskan hal-hal yang sangat kritis untuk bangsa.

"Ketiga, isu tentang proses pengambilan keputusan tentang sistem JKN juga bagaimana tingkat independensi yang muncul terkait sejumlah pertimbangan-pertimbangan yang ada," ujarnya.

Sedangkan sesi keempat berisi pembahasan tentang bagaimana mengkombinasikan kebijakan ekonomi dan kesehatan dengan mempertimbangkan berbagai faktor.  "InaHEA berupaya mengakomodasi suara para pemangku kepentingan untuk meramu dan menghasilkan kebijakan ekonomi kesehatan yang dibutuhkan masyarakat.  Informasi yang InaHEA sampaikan tentu saja dasarnya empiris yang ditopang oleh perkembangan ilmu ekonomi kesehatan Indonesia," pungkas Budi.

 

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check