Hobi Santap Daging Berkawan Erat dengan Kanker Usus Besar

Hobi Santap Daging Berkawan Erat dengan Kanker Usus Besar

24 Oct 2018

Dokterdigital.com - Kanker usus besar (kolorektal) merupakan salah satu kanker yang menyebabkan kematian utama baik pada wanita dan pria seluruh dunia saat ini. Mantan peragawati Titi Qadarsih mengidap penyakit ini.

Gaya hidup menjadi salah satu penyebab kenapa kanker usus besar tetap bertahan sebagai penyebab utama kematian dan angka kejadian terus meningkat di tengah masyarakat. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi Ari Fahrial Syam dari FKUI/RSCM menyebut, faktor genetik memang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus besar tetapi gaya hidup merupakan hal yang utama. "Dalam praktik saya sehari-hari, kasus kanker usus sudah umum ditemukan. Saat ini bahkan banyak kasus baru yang ditemukan pada  usia yang lebih muda," ujarnya.

Beberapa faktor risiko yang telah teridentifikasi dan konsisten dalam berbagai penelitian termasuk penelitian di Indonesia adalah diet tinggi daging merah serta daging olahan serta kurang makan sayur dan buah. "Anjuran untuk mengontrol berat badan dengan konsumsi daging merah yang berlebihan dan tidak konsumsi  buah karena mengandung karbohidrat merupakan anjuran yang menyesatkan," bebernya.

Selanjutnya, rokok merupakan faktor risiko utama, bukan saja bagi perokok aktif tapi juga perokok pasif. "Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada perokok tapi orang terdekat dan sekitarnya merokok sehingga mereka yang terkena kanker usus besar tersebut merupakan perokok pasif," sesal Ari.

Indonesia masih surganya buat perokok karena  para perokok bebas merokok dimana saja. Di beberapa kota besar di negara maju sudah sulit untuk mencari tempat buat merokok. 

Beberapa faktor risiko lain adalah kegemukan, kurang bergerak dan peminum alkohol. Ada beberapa faktor risiko yang tidak bisa berubah adalah umur, umur diatas 50 tahun menjadi batasan umur untuk memulai skrining. Faktor genetik berupa riwayat kanker atau polip usus pada keluarga, riwayat  penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease/IBD) sebelumnya, riwayat penyakit kencing manis/diabetes mellitus merupakan faktor risiko yang juga harus diantisipasi.

"Penyakit ini awalnya tanpa gejala oleh karena itu buat masyarakat yang mempunyai risiko tinggi terjadinya kanker usus besar untuk kontrol ke dokter. Akan dilakukan pemeriksaan skrining untuk mendeteksi secara dini penyakit ini," urai Ari.

Gejala yang timbul kalau kanker usus sudah terjadi antara lain buang air besar berdarah, pola defekasi (buang air besar) yang berubah -  mudah diare atau sembelit secara bergantian, sakit perut berulang, berat badan turun, pucat tanpa sebab yang jelas bahkan apabila  teraba  benjolan di perut merupakan  gejala kanker usus besar. "Pemeriksaan kolonoskopi dan dilanjutkan dengan biopsi merupakan metode  utama untuk menemukan kanker usus ini," tandasnya.

Sebenarnya, penyakit kanker usus besar merupakan jenis penyakit yang bisa dicegah. Bagi yang sudah terkena, juga bisa diobati. Ari menyebut, semakin dini ditemukan, maka akan semakin baik harapan kesembuhannya. Jika kasus kanker usus besar  ini ditemukan pada stadium awal maka harapan hidup selama 5 tahun mencapai 92 persen. "Sebaliknya jika kanker usus ini ditemukan pada stadium IV atau lanjut maka harapan hidup 5 tahunnya hanya tinggal 12 persen," ujar Ari yang juga dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check