Konsumsi Makanan Manis Bikin Tambah Lapar, Ini Alasannya

Konsumsi Makanan Manis Bikin Tambah Lapar, Ini Alasannya

10 Oct 2018

Dokterdigital.com - Gula bisa menjadi pedang bermata dua.  Rasanya manis, namun juga bisa menjadi 'racun' jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih. Gula yang menumpuk di dalam tubuh bisa memicu obesitas, yang bisa menuntun ke sejumlah penyakit tidak menular, seperti diabetes, stroke, hipertensi juga penyakit jantung.

Mengapa gula bisa menjadi biang masalah kesehatan? Menurut pakar nutrisi sekaligus guru besar Institut Pertanian Bogor Prof Ali Khomsan, orang yang banyak mengonsumsi gula cenderung gemuk karena gula memiliki mekanisme menekan hormon leptin sehingga bisa menyetop rasa kenyang dalam tubuh.

"Makan gula dalam jumlah banyak malah membuat kita selalu merasa lapar sehingga tergoda untuk makan terus," kata Ali di sela-sela peluncuran Nestle Milo Less Sugar di Jakarta, baru-baru ini.

Hormon leptin dibutuhkan untuk metabolisme dan reproduksi dalam tubuh sekaligus mengontrol rasa lapar. Imbasnya, konsumsi gula berlebih bisa membuat tubuh mudah lapar dan selalu menginginkan makanan.

Rasa lapar yang diisyaratkan otak akan dipenuhi dengan mengemil. Saat mengemil ini tak terkontrol, terutama makanan tinggi kalori, maka tubuh cenderung menjadi gemuk.

Kementerian Kesehatan menganjurkan untuk membatasi asupan gula garam lemak untuk mencegah penyakit tidak menular. Konsumsi gula untuk orang di Indonesia adalah 50 gram, setara dengan empat sendok makan perhari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menerapkan batasan yang lebih ketat, yaitu  25 gram per hari.

Di kesempatan yang sama Asisten Deputi Ketahanan Gizi Kesehatan Ibu Anak dan Kesehatan Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Meida Octarina menambahkan, obesitas berpotensi memicu naiknya penyakit tidak menular di masyarakat.

"Obesitas pada anak-anak dan dewasa di Indonesia itu sudah mencapai 15,4 persen. Pemicunya karena gaya hidup santai kurang gerak, juga konsumsi gula, garam dan lemak dalam jumlah tinggi," ujar Meida.
Penyakit tidak menular ini menghabiskan anggaran BPJS Kesehatan. 

"Defisit BPJS Kesehatan yang mencapai Rp16 triliun karena penyakit tidak menular seperti tekanan darah tinggi, stroke, juga sakit jantung. Padahal penyakit ini bisa dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat," tandas Meida.

 

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check