Janji kepada Jantung untuk Menjaganya Tetap Sehat

Janji kepada Jantung untuk Menjaganya Tetap Sehat

01 Oct 2018

Dokterdigital.com - Gaya hidup sibuk cenderung membuat kita makan seadanya, dan berpotensi mengonsumsi makanan tidak sehat. Jenis makanan siap saji umumnya akan menjadi pilihan saat waktu kita terbatas.

Mudah ditebak, kondisi ini mengakibatkan pemilihan makanan yang cenderung tinggi kalori, lemak, gula dan garam. Jika hal ini berlangsung dalam waktu lama, bisa memicu berat badan berlebih yang menuntun pada obesitas. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sebanyak 39% orang dewasa di Indonesia berusia 18 tahun ke atas dikategorikan kelebihan berat badan, dan 13% masuk dalam kategori obesitas.

Kegemukan bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, pembunuh nomor satu di dunia yang membunuh lebih dari 17.7 juta jiwa setiap tahun.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2013 menemukan bahwa prevelensi penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 2,1% dari total penduduk. Dari jumlah itu, 39% dari mereka berusia di bawah 44 tahun, dan 22% dari mereka berusia antara 15-35 tahun.

Data Kementerian Kesehatan tahun 2016 mengungkap, biaya penyakit jantung menghabiskan dana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan hingga Rp6,9 triliun per tahun.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Dr dr Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA FSCAI, FAPSIC, penyakit jantung merupakan penyakit degeneratif. Semua orang memiliki risiko untuk terkena penyakit jantung.

"Namun, sekarang makin banyak orang-orang muda yang sudah terkena sakit jantung, dan kebanyakan penyebabnya adalah gaya hidup,” kata dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (PIKI). Hal ini bisa dicegah sepanjang kita mau berkomitmen untuk menjaga jantung tetap sehat.

Menurut dokter yang tergabung dalam Pokja Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), kerusakan pada arteri sejatinya membutuhkan waktu lama sebelum menyebabkan gejala penyakit jantung.

Namun demikian tak bisa dimungkiri kerusakan itu bisa terjadi pada usia muda, bahkan pada anak-anak.

Antonia menambahkan, obesitas dan gaya hidup tidak sehat menjadi faktor terbesar pada penyakit jantung koroner dan angka kejadiannya lebih banyak terjadi di kota ketimbang di desa. “Artinya, masyarakat perkotaan lebih rentan terhadap gaya hidup tidak sehat. Kalau kita tidak berusaha untuk hidup lebih sehat, jantung kita yang akan jadi korban," bebernya.

Membiasakan gaya hidup sehat dimulai dari keluarga sejak anak hingga dewasa diperlukan untuk menjaga kesehatan jantung. "Caranya dapat dimulai dengan membiasakan anak bermain di luar rumah atau yang bersifat bergerak. Hindarkan anak remaja untuk duduk seharian, dan awasi penggunaan gawai secara bijaksana," beber Antonia.

Hal lain yang perlu dilakukan untuk menjaga jantung sehat adalah jaga berat badan ideal, jauhi rokok, dan beristirahatlah dengan cukup. Periksa kesehatan secara berkala walaupun tidak ada keluhan atau gejala penyakit. "Yang tak kalah penting, konsumsi makanan sehat berserat serta bergizi seimbang,” urainya.

Nah, menandai Hari Jantung Sedunia 29 September, Philips bermitra dengan Federasi Jantung Dunia (WHF) mengajak semua orang untuk berjanji kepada jantung.Janji kepada jantung merupakan perubahan kecil pada gaya hidup yang dapat memberikan perbedaan besar bagi kesehatan jantung, seperti makan makanan yang sehat dan seimbang, melakukan olahraga ringan selama 30 menit sehari atau berhenti merokok, dan dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit kardiovaskular. 

Ini merupakan inisiatif tahunan untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) serta risiko-risiko terkait penyakit tersebut.  

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check