Tren Penyakit Saluran Cerna di Indonesia Naik, Ini Alasannya

Tren Penyakit Saluran Cerna di Indonesia Naik, Ini Alasannya

31 Aug 2018

Dokterdigital.com - Tren penyakit saluran cerna, misalnya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) di Indonesia belakangan ini menunjukkan tren makin terkait gaya hidup masyarakat yang kurang sehat, misalnya merokok, konsumsi daging, makanan berlemak, makanan asin dan goreng-gorengan yang merangsang produksi asam lambung.

Prevalensi GERD, menurut hasil studi Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, dkk. terhadap dokter-dokter di Indonesia mencapai 27,4 persen. Bahkan kalangan medis yang lebih melek soal kesehatan juga tak lepas dari penyakit GERD.

Padahal apabila dibiarkan GERD dapat menyebabkan berbagai komplikasi.  Dijelaskan Prof Ari, hal ini terjadi karena asam lambung yang naik dapat menyebabkan luka pada dinding dalam kerongkongan. "Yang awalnya hanya berupa perlukaan, lama kelamaan luka semakin luas dan bisa menyebabkan penyempitan kerongkongan bawah," kata Prof Ari di sela-sela acara peluncuran Yayasan Gastroenterologi Indonesia di Jakarta, Jumat (31/8).

Bahkan, Prof Ari menambahkan, GERD dapat menyebabkan perubahan struktur dari dinding dalam kerongkongan yang menyebabkan terjadinya penyakit Barrett’s yang merupakan lesi pra kanker. Di luar saluran cerna, asam lambung yang tinggi dapat menyebar ke gigi, tenggorokan, pita suara, saluran pernafasan bawah bahkan sampai paru-paru.

Menurut data Kementerian Kesehatan, penyakit yang berhubungan dengan gastrointestinal, salah satunya GERD, menduduki 10 besar penyakit terbanyak penderitanya di Indonesia.

Studi yang dilakukan Prof. Dr. dr. Dadang Makmun, Sp.PD-KGEH, yang telah dipublikasikan di Jurnal Digestive Endoscopy (2009), menunjukkan bahwa diare, gastroenteritis, dispepsia dan GERD merupakan penyakit terbanyak yang menyebabkan pasien berobat rawat jalan.

Prof Ari menjelaskan, GERD dapat dikendalikan dengan gaya hidup sehat.  Mengutip riset yang dilakukan Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG, dkk (dipublikasikan pada jurnal Asian Journal of Epidemiology, 2016), sebanyak 9,35 persen dari 278 peserta penelitian mengalami GERD.

Ada temuan menarik dalam riset ini, yaitu adanya hubungan yang bermakna antara GERD dengan tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan penundaan pengosongan lambung. GERD sering ditemukan pada tingkat pendidikan dan berpenghasilan rendah. "Mereka cenderung mengandung kadar lemak yang tinggi, sehingga mudah terjadi penundaan pengosongan lambung mudah yang berakibat pada munculnya GERD," ujar Prof Ari.

Yayasan Gastroenterologi Indonesia

Masih banyak orang yang menganggap remeh penyakit yang terkait dengan saluran cerna. Untuk meningkatkan pemahaman terkait penyakit gastrointestinal, maka dibentuklah Yayasan Gastroenterologi Indonesia (YGI), sebuah lembaga nirlaba yang didirikan oleh dokter-dokter spesialis konsultan gastroenterohepatologi (KGEH) yang juga merupakan pengurus besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) dan Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI).

"Sebagian besar penyakit pencernaan dapat dicegah salah satunya dengan gaya hidup sehat dan deteksi secara dini, karena itulah dokter-dokter spesialis konsultan gastroenterohepatologi terpanggil untuk mengedukasi masyarakat sebagai langkah preventif," kata Prof Ari.

YGI dibentuk dengan tujuan, antara lain mensosialisasikan informasi-informasi mutakhir seputar permasalahan kesehatan pencernaan kepada masyarakat melalui berbagai aktivitas di antaranya melalui website. Juga mengedukasi masyarakat mengenai berbagai penyakit pencernaan mengingat penyakit pencernaan merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. "YGI juga dibentuk untuk membantu penelitian-penelitian di bidang gastroenterologi," imbuhnya.

Dengan berkumpulnya para dokter spesialis konsultan gastroenterologi ke dalam yayasan tersebut, diharapkan makin banyak anggota masyarakat yang mengetahui berbagai cara pencegahan dan deteksi dini penyakit yang berkaitan dengan masalah gastrointestinal. "Harapannya penanganannya pun menjadi lebih cepat dan efektif. Tingkat kesembuhan dan harapan hidupnya pun menjadi lebih panjang," pungkas Prof Ari.

2021 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check