Tanpa Ngemil, Kurang Tidur Bisa Bikin Gemuk

Tanpa Ngemil, Kurang Tidur Bisa Bikin Gemuk

24 Aug 2018

Dokterdigital.com - Banyak penelitian telah mengamati hubungan antara gangguan tidur dan kenaikan berat badan, terutama di antara pekerja shift dan orang dengan gangguan insomnia - ditemukan memiliki risiko obesitas lebih tinggi.

Nah, temuan terkini yang telah diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada 22 Agustus, menemukan bahwa mungkin memang ada reaksi dalam tubuh ketika kita tidak cukup tidur, yang mengarah ke penyimpanan lebih banyak lemak dan hilangnya massa otot.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, sebanyak 35 persen orang dewasa di Amerika Serikat tidak cukup istirahat setiap malam. Rekomendasi yang berlaku menyarankan orang yang berusia 18 hingga 60 tahun tidur setidaknya 7 jam setiap malam.

Menurut penulis utama studi, Jonathan Cedernaes, seorang peneliti sirkadian di Uppsala University di Swedia, temuan teranyar ini menunjukkan bahwa tidur memiliki "fungsi yang tak tergantikan."

"Tidur bukan hanya untuk menghemat energi, tetapi memiliki banyak fungsi," katanya.

Lima belas pria sehat direkrut oleh tim peneliti dan diminta untuk memberikan sampel lemak dan otot mereka pada dua hari yang berbeda - pertama kalinya setelah tidur malam yang nyenyak, dan kedua kalinya setelah mereka terjaga sepanjang malam.

Ketika memeriksa jaringan lemak yang dikumpulkan setelah malam tanpa tidur, tim peneliti menemukan peningkatan kadar protein serta perubahan lain yang dapat meningkatkan penyimpanan lemak yang lebih tinggi di dalam tubuh. Di sisi lain, sampel otot menunjukkan penurunan protein struktural yang penting untuk membangun massa otot.

"Kurang tidur dengan sendirinya adalah mengurangi protein yang merupakan komponen kunci dari otot," kata Cedernaes.

Karena penelitian telah mengamati tren penurunan massa otot di antara pekerja shift, peneliti sebelumnya menyoroti peran faktor-faktor lain seperti kecenderungan kita untuk makan makanan ringan ketika begadang atau mengurangi tingkat aktivitas fisik karena kelelahan yang terkait dengan tidur. Tetapi temuan baru menunjukkan bahwa mekanisme spesifik jaringan sedang bekerja terlepas dari faktor-faktor lainnya itu.

Cedernaes menjelaskan bahwa kurang tidur bisa mengganggu siklus hormonal tubuh. Ini tidak hanya merusak produksi hormon testosteron dan pertumbuhan, tetapi juga memicu peningkatan kadar hormone stres, kortisol, yang meningkatkan penyimpanan lemak. Selain itu, tim mengamati peningkatan peradangan pada responden yang kekurangan jam tidur, yang secara signifikan dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2.

Dalam penelitian lebih lanjut, tim peneliti akan meneliti rencana diet, rencana latihan, dan metode lain untuk mengurangi efek berbahaya ini. "Mungkin kasusnya, misalnya, makan makanan yang kaya protein atau melakukan pelatihan ketahanan dapat mengurangi risiko degradasi otot," kata Cedernaes.

 

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check