Jangan Bangga Jika Bayi Lahir Besar

Jangan Bangga Jika Bayi Lahir Besar

13 Apr 2018

Dokterdigital.com - Melahirkan bayi besar (di atas 4 kg) sebaiknya jangan dianggap sebagai sebuah prestasi, karena ini bisa jadi sinyal adanya kondisi diabetes gestasional pada sang ibu.

Seperti jenis diabetes lainnya, diabetes gestational mempengaruhi bagaimana sel-sel tubuh menggunakan gula (glukosa). Kondisi ini menyebabkan gula darah tinggi yang dapat mempengaruhi kehamilan dan kesehatan bayi.

Pada kondisi diabetes gestasional, gula darah biasanya kembali ke normal segera setelah melahirkan. Namun perlu dicatat, perempuan hamil yang mengalami diabetes gestasional berisiko terkena diabetes tipe 2.

Bagaimana mengenali diabetes gestasional? Sayangnya, kebanyakan diabetes gestasional tidak menyebabkan tanda atau gejala yang nyata. Bahkan para peneliti tidak tahu mengapa beberapa wanita mengalami kondisi ini, demikian dilaporkan Mayoclinic.org.

Memahami bagaimana diabetes gestasional terjadi, dapat membantu kita untuk  lebih mengerti bagaimana kehamilan mempengaruhi proses glukosa tubuh ibu hamil.

Tubuh kita mencerna makanan untuk menghasilkan gula (glukosa) yang memasuki aliran darah. Menanggapi hal ini, pankreas  - kelenjar besar di belakang perut - menghasilkan insulin. Insulin adalah hormon yang membantu glukosa ‘berpindah’ dari aliran darah ke sel-sel tubuh, di mana gula ini digunakan sebagai energi.

Selama kehamilan, plasenta - yang menghubungkan bayi dengan suplai darah ibu - menghasilkan hormone lain dalam jumlah tinggi. Hampir semuanya merusak kerja insulin di sel, meningkatkan gula darah.

Saat bayi tumbuh di rahim, plasenta menghasilkan lebih banyak hormon penghambat insulin. Dalam diabetes gestasional, hormon plasenta ‘memprovokasi’ peningkatan gula darah ke tingkat yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesejahteraan bayi.

Diabetes gestational biasanya berkembang selama paruh terakhir kehamilan - kadang-kadang bisa dimulai di usia 20 minggu.

Setiap wanita dapat mengembangkan diabetes gestasional, tetapi sejumlah perempuan memiliki risiko yang lebih besar. Faktor risiko untuk diabetes gestasional meliputi:

1. Usia lebih dari 25 tahun. Wanita berusia di atas 25 lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes kehamilan.

Riwayat kesehatan keluarga atau pribadi. Risiko seseorang terkena diabetes gestasional meningkat jika ia memiliki pradiabetes - kelebihan gula darah yang mungkin menjadi prekursor diabetes tipe 2 - atau jika anggota keluarga dekat, seperti orang tua atau saudara kandung, memiliki diabetes tipe 2.

Perempuan juga lebih mungkin mengembangkan diabetes gestasional jika ia mengalaminya selama kehamilan sebelumnya, atau melahirkan bayi yang beratnya lebih dari 4,1 kilogram atau jika ibu mengalami kelahiran mati (stillbirth) yang tidak dapat dijelaskan.

2. Kelebihan berat badan.

Wanita lebih mungkin mengembangkan diabetes gestasional jika mengalami kenaikan berat badan secara bermakna dengan indeks massa tubuh (BMI) 30 atau lebih tinggi.

3. Bukan ras Kaukasia. Untuk alasan yang tidak jelas, wanita yang berkulit hitam, Hispanik, Indian Amerika atau Asia memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan diabetes gestasional.

Sebagian besar wanita yang memiliki diabetes gestasional bisa melahirkan bayi yang sehat. Namun, diabetes gestasional yang tidak dikelola dengan hati-hati dapat menyebabkan kadar gula darah yang tidak terkontrol dan menyebabkan masalah bagi ibu juga bayinya, termasuk kemungkinan melibatkan perlunya bedah Caesar untuk melahirkan.

Ibu hamil yang mengalami diabetes gestasional, kemungkinan memaparkan sejumlah risiko pada bayi. Apa saja yang mesti diwaspadai? Berikut daftarnya:

1. Bayi lahir besar. Kelebihan glukosa dalam aliran darah ibu yang melintasi plasenta, bisa memicu pankreas bayi untuk membuat insulin ekstra. Ini dapat menyebabkan bayi tumbuh terlalu besar (makrosomia). Bayi-bayi yang sangat besar - yang beratnya di atas 4 kg -  lebih mungkin untuk terjepit di jalan lahir, menderita luka lahir atau memerlukan kelahiran Caesar.

2. Lahir prematur dan sindroma gangguan pernapasan. Gula darah ibu yang tinggi dapat meningkatkan risiko persalinan dini dan melahirkan bayinya sebelum tanggal kelahiran bayi alias prematur. Dokter mungkin merekomendasikan persalinan dini karena bayi sudah terlalu besar.

3. Bayi yang lahir lebih awal mungkin mengalami sindrom gangguan pernapasan - suatu kondisi yang membuat bayi sulit bernafas. Bayi dengan sindroma ini mungkin memerlukan bantuan bernapas sampai paru-paru mereka matang dan menjadi lebih kuat. Bayi ibu dengan diabetes gestasional dapat mengalami sindroma gangguan pernapasan bahkan jika mereka lahir tepat waktu (bukan prematur).

4. Gula darah rendah (hipoglikemia). Kadang-kadang bayi dari ibu dengan diabetes gestasional mengembangkan gula darah rendah (hipoglikemia) segera setelah lahir karena produksi insulin mereka sendiri tinggi. Epidemi hipoglikemia berat dapat memicu kejang pada bayi. Pemberian larutan glukosa intravena dapat mengembalikan tingkat gula darah bayi ke normal.

5. Diabetes tipe 2 di kemudian hari. Bayi dari ibu yang memiliki diabetes gestasional memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan obesitas dan diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Memang setiap komplikasi kehamilan tidaklah diharapkan, namun kabar baiknya ibu hamil dapat mengontrol diabetes gestational dengan makan makanan sehat, berolahraga dan, jika perlu, minum obat. Mengontrol gula darah dapat mencegah kelahiran yang sulit dan menjaga ibu dan bayi dalam kondisi sehat.

 

2018 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check