Angka Kematian Ibu Masih Dipandang Sebelah Mata

Angka Kematian Ibu Masih Dipandang Sebelah Mata

15 Dec 2017

Dokterdigital.com - Kehamilan merupakan anugerah dan harus disyukuri. Tidak semua perempuan beruntung bisa hamil. Perlu diketahui, hamil normal bukan merupakan penyakit, dan ada prosesnya. Selama menjalani proses, kehamilan harus dipersiapkan dan dijaga.

Untuk melahirkan generasi yang lebih sehat sebagai khalifah-khalifah andal di masa datang, Dr. dr. Ali Sungkar, Sp.OG-KFM, dokter kandungan yang juga ahli fetomaternal mengimbau para calon ibu dan ibu untuk lebih peduli terhadap kesehatannya.

Tak bisa dimungkiri bahwa masa depan bangsa tergantung pada kualitas bayi-bayi yang dilahirkan. Kita berada di dalam suatu situasi dimana masyarakat tidak sadar atau menutup mata mengenai kematian ibu yang melahirkan. Kebanyakan orang tidak peduli, kecuali yang meninggal adalah orang yang mereka kenal.

Ali menyampaikan ilustrasi sederhana terkait angka kematian ibu di Indonesia yang masih dipandang sebelah mata. Data Riskesdas menunjukkan, dari 100 ribu angka ibu melahirkan, terdapat 305 kejadian dimana ibu yang melahirkan meninggal. “Ini  berarti ada 305 anak piatu (tidak memiliki ibu). Jika penduduk Indonesia diumpamakan 250 juta orang dan 2% dari jumlah tersebut adalah angka kematian ibu, berarti ada sekitar 5 juta ibu yang meninggal,” ujar Ali dalam diskusi kesehatan bersama Philips Indonesia bertema ‘Jaga Kehamilan untuk Generasi yang Lebih Sehat’ di Jakarta, Kamis (14/12).

Angka 5 juta itu besar, bandingkan j dengan jumlah penduduk Singapura yang tidak lebih dari 5 juta.

“Lima juta ibu yang meninggal dalam 1 tahun (52 minggu) berarti sekitar 13.500 orang meninggal saat proses melahirkan,” ujar Ali yang berprinsip kebidanan bukan hanya mengenai membantu ibu melahirkan, tetapi juga mempersiapkan kualitas bayi yang akan dilahirkan.

Untuk menciptakan generasi yang sehat dan kuat, Ali mengunakan analogi membangun rumah. “Jika mau membangun rumah, buat gambar dahulu, kemudian siapkan barang-barang yang diperlukan dan minta izin bangunan. Untuk kehamilan juga sama, harus dipersiapkan.  Harus dipersiapkan bobot, bibit, bebet,” bebernya.

Ibu hamil dengan hepatitis memiliki risiko melahirkan anak dengan kemungkinan mengidap sirosis hati. Sedangkan ibu hamil anemia memiliki risiko mengalami perdarahan dan meninggal saat melahirkan. “Jadi, perbaiki dahulu gizinya, baru hamil,” ujar Ali.

Indonesia juga dihadapkan pada angka persalinan bayi prematur yang tinggi. Indonesia berada di urutan kelima, negara di dunia dengan jumlah bayi prematur terbanyak, lebih dari 15,5 per 100 kelahiran, menurut survey dari UNICEF. Bandingkan dengan Swedia yang hanya memiliki persalinan prematur 8%, Jepang 6% dan USA 11% per tahun.

“1 dari 7 bayi lahir di Indonesia merupakan bayi prematur, yang memiliki risiko kesehatan, antara lain organ belum terbentuk sempurna,” beber Ali.

Bayi prematur membutuhkan biaya besar untuk perawatannya – disebut mencapai Rp10 juta per hari jika harus dirawat di NICU (neonatal intensive care unit).

“Iuran BPJS  Kesehatansebagian dipakai untuk membayar perawatan dan pengobatan bayi preterm (prematur) yang dapat menghabiskan Rp30 juta sebulan dengan tidak ada jaminan bayi tersebut akan tetap hidup,” ujar Ali.  

Jika pun bisa hidup, kemungkinan dia akan hidup dengan penyakit-penyakit tertentu seperti asma atau bahkan buta. “Dan kalau bayi tersebut bisa melewati hidup, kemungkinan bayi tersebut tubuh menjadi anak dengan kondisi stunting (pendek), ada kemungkinan ia mengalami gagal ginjal,” urai Ali.

Untuk menciptakan generasi berkualitas dan menimimalkan risiko kehamilan, Ali menekan pentingnya mengatasi masalah di ujungnya. “Karena kalau tidak, BPJS akan bangkrut ke depannya.  Artinya, gizi diperbaiki sebelum hamil, lakukan pre-marital test untuk mengetahui kondisi mental dan fisik calon suami, juga termasuk pemeriksaan talasemia, hepatitis dan diabetes bagi para calon ibu,” tandas Ali.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check