Tantangan dalam Merawat Bayi Prematur

Tantangan dalam Merawat Bayi Prematur

15 Nov 2017

Dokterdigital.com - Merawat bayi prematur merupakan hal yang menantang. Bukan saja bagi para tenaga medis, namun juga orangtua si bayi.

Bayi prematur atau yang kerap disebut dengan istilah 'bayi yang lahir belum cukup bulan' merujuk pada bayi yang dilahirkan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Sayangnya, angka kelahiran bayi prematur di Indonesia terbilang cukup tinggi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Indonesia menempati urutan kelima sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Kelahiran prematur diidentifikasi sebagai penyumbang terbesar angka kematian bayi.

Data Biro Pusat Statistik 2016 menyebut, angka kematian bayi (AKB) mencapai 25 kematian setiap 1.000 bayi yang lahir . Hal ini tentu menjadi perhatian berbagai pihak karena AKB menjadi salah satu indikator tingkat kesehatan sebuah negara.

Kematian bayi baru lahir (neonatal) mempunyai porsi 54,9% dari seluruh kematian bayi sehingga kelangsungan hidup bayi baru lahir masih menjadi fokus program Kementerian Kesehatan.

Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012, Angka Kematian Neonatal adalah 19 per 1.000 Kelahiran Hidup yang cenderung stagnan sejak satu dekade sebelumnya. Dari laporan rutin tercatat pada semester pertama 2017 terdapat 10.294 kasus atau 22 kematian bayi per 1.000 kelahiran.

Penyebab utama kematian neonatal adalah bayi berat lahir rendah (BBLR) termasuk prematuritas, diikuti oleh asfiksia dan infeksi.

Menurut DR. dr.  Rinawati Rohsiswatmo SpA (K), Staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) perawatan bayi prematur dikategorikan cukup rumit, karena tingginya risiko yang dapat terjadi di awal kehidupan bayi tersebut.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi lahirnya bayi prematur, bisa karena kondisi ibu, bayi atau keduanya.

Ditilik dari faktor ibu, bisa terjadi jika ibu memiliki riwayat darah tinggi (hipertensi) yang akan membahayakan janin juga nyawa si ibu sendiri jika tidak segera melahirkan. Konsekuensinya adalah, bayi bisa dilahirkan belum cukup bulan.

Sedangkan dari faktor bayi, hal itu bisa disebabkan oleh kehamilan kembar yang membuat kondisi di di dalam kandungan ‘terlalu sesak’ sehingga harus segera dilakukan tindakan operasi meskipun usia kandungan belum cukup bulan. “Atau bayi tidak tumbuh sementara cairan ketuban (amnion) makin sedikit,” kata Rina dalam temu media yang diselenggarakan General Electric Indonesia di Jakarta, Selasa (14/11).

Faktor berikutnya yang mempengaruhi persalinan prematur adalah kondisi ibu dan bayi, yaitu ditilik dari faktor plasenta. “Bisa jadi plasentanya tidak normal. Nutrisi dari ibu  (yang dialirkan lewat plasenta) ke anak tidak tersampaikan dengan baik, jadi bayi kekurangan nutrisi,” beber Rina sembari menambahkan untuk kondisi seperti ini bayi harus dilahirkan segera.

Rina menambahkan, dengan penanganan yang baik, kematian bayi prematur bisa dihindari. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan yang luas, kesabaran dan keterampilan para pihak terkait dalam merawat bayi prematur.

Rina menambahkan, perawatan bayi prematur tak jarang membutuhkan sarana yang lengkap dan teknologi yang canggih dalam ruang perawatan NICU (neonatal intensive care unit).

Terkait dalam upaya menekan kematian bayi prematur, General Electric Indonesia mengembangkan inkubator baru yang lebih lengkap dan memudahkan bagi dokter atau perawat.

General Manager of Clinical Care Solutions, GE Healthcare Africa, India and Southeast Asia Nilesh Shah mengatakan, peralatan tersebut tersedia di sejumlah rumah sakit umum daerah di sejumlah provinsi, seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bangka Belitung, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check