Diet Tinggi Protein Lebih Efektif Turunkan Berat Badan

Diet Tinggi Protein Lebih Efektif Turunkan Berat Badan

22 Apr 2019

Dokterdigital.com - Diet tinggi protein dapat membantu kita merasa kenyang lebih lama, juga bisa sebagai cara untuk menurunkan berat badan. Sebuah studi baru mengungkap mekanisme yang terlibat dalam hal ini sekaligus menawarkan harapan akan alternatif yang lebih aman dan lebih mudah tanpa siksaan rasa lapar.

Obesitas sejauh ini dikategorikan sebagai penyakit. Jumlah orang dengan kelebihan berat badan terus menunjukkan peningkatan. Obesitas memicu peningkatan risiko berbagai kondisi yang berpotensi mengancam jiwa. Oleh karena itu, menemukan cara untuk membalikkan epidemi ini adalah hal krusial untuk dilakukan.

Diet tinggi protein pada beberapa orang bisa menurunkan asupan kalori secara keseluruhan dan terpangkasnya berat badan.

Namun, diet yang terfokus pada protein tampaknya sulit dipertahankan dan seringnya membawa risiko kesehatan. Sejumlah risiko kesehatan yang dihadapi mereka yang menerapkan pola makan tinggi protein antara lain konstipasi akibat kekurangan serat makanan, meningkatnya risiko penyakit jantung (dengan konsumsi daging merah yang lebih tinggi), dan mengurangi fungsi ginjal bagi orang-orang yang berisiko mengalami masalah ginjal.

Karena potensi bahaya dan kesulitan mempertahankan diet tinggi protein, peneliti sangat antusias untuk memahami bagaimana cara kerjanya dengan harapan bisa mereplikasi efeknya.

Mariana Norton, salah satu peneliti dari studi ini menjelaskan diet tinggi protein diketahui mendorong penurunan berat badan, namun sayangnya ‘patuh’ pada pola makan ini sulit dilakukan.

Mengidentifikasi mekanisme cara kerja diet tinggi protein akan memungkinkan peneliti menemukan obat-obatan atau makanan fungsional untuk ‘membajak’ pengaturan nafsu makan dan mengatasi obesitas. Tujuannya adalah menjaga efek menguntungkan protein tanpa melibatkan protein.

Untuk tujuan ini, Prof. Kevin Murphy dan rekan-rekannya dari Imperial College London di Inggris berfokus pada fenilalanin. Mereka memilih senyawa ini karena penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa fenilalanin dapat mengurangi nafsu makan.

Dalam proses pencernaan, protein dipecah menjadi asam amino, dan salah satunya adalah fenilalanin - yang digolongkan sebagai asam amino esensial karena tubuh kita tidak dapat memproduksinya, dan karena itu perlu dikonsumsi dari luar.

 

Dalam usus, fenilalanin terdeteksi oleh reseptor penginderaan kalsium. Aktivasi reseptor ini merangsang pelepasan glukagon seperti peptida-1 (GLP-1) di batang otak. GLP-1 tugasnya antara lain membantu memperbaiki toleransi glukosa.

Meskipun peneliti percaya bahwa fenilalanin membantu mempengaruhi nafsu makan melalui GLP-1, mekanisme pastinya belum ditemukan. Tampaknya ada lebih banyak keterlibatan ketimbang hanya satu jalur hormon.

Dalam penelitian, tikus diberikan fenilalanin secara oral atau rektal (usus besar). Dua rute yang berbeda memungkinkan tim untuk menilai pengaruhnya pada berbagai bagian usus. Selama 24 jam berikutnya, konsumsi makanan tikus diukur, dan bagian otak yang terlibat dalam nafsu makan dipantau.

Fenilalanin yang diberikan secara oral dan rektal, mengurangi nafsu makan hewan pengerat dan aktivitas meningkat di bagian otak yang diketahui terlibat dalam mengatur nafsu makan. Bahkan bila jumlah fenilalanin 10 kali lebih rendah dari tingkat asupan harian yang diharapkan dari diet tinggi protein yang diberikan secara rektal, efek ini masih dapat diukur.

"Memahami bagaimana makanan terdeteksi di usus dapat membantu untuk mengidentifikasi cara mengobati atau mencegah obesitas. Langkah selanjutnya adalah menentukan apakah fenilalanin dapat mendorong efek pengurangan nafsu makan serupa pada manusia,” kata Norton.

Tampaknya fenilalanin bekerja untuk menekan nafsu makan dengan menggunakan sejumlah jalur di usus. Tentu saja, penelitian ini tidak membuktikan bahwa fenilalanin memiliki efek yang sama pada manusia, sehingga lebih banyak riset yang perlu dilakukan. Namun, temuan tersebut menarik dan menuntun pada pertanyaan lebih lanjut untuk dijawab.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check