Intoleransi Laktosa Berbeda dengan Alergi Susu

Intoleransi Laktosa Berbeda dengan Alergi Susu

25 Mar 2019

Dokterdigital.com - Konsumsi susu di Indonesia terbilang rendah. Orang enggan minum susu, antara lain karena memiliki intoleransi laktosa.

Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana seseorang kekurangan enzim laktase, yang diperlukan untuk memecah gula yang terdapat pada susu.

Sejumlah orang yang tidak menghasilkan cukup laktase, tidak dapat menoleransi laktosa di luar masa kanak-kanak. Diperkirakan 15 persen orang keturunan Eropa utara, 80 persen orang kulit hitam dan Hispanik, dan lebih dari 90 persen orang Asia tidak memproduksi enzim laktase.

Intoleransi laktosa dapat menyebabkan kembung, perut begah atau diare saat mengonsumsi susu dan produk susu. Efek negatif intoleransi laktosa pada sistem gastrointestinal (saluran cerna) dapat membahayakan penyerapan nutrisi dari makanan lain.

Lantas bagaimana orang dengan intoleransi laktosa agar tetap bisa mengonsumsi susu? Minum susu bebas laktosa, yang telah ditambahkan enzim untuk membantu pencernaan laktosa, atau mengonsumsi suplemen yang mengandung enzim laktase saat mengonsumsi susu dapat mengurangi atau menghilangkan gejala ini.

Intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu

Alergi susu atau hipersensitivitas berbeda dengan intoleransi laktosa. Alergi susu mengacu pada reaksi imunologis abnormal dimana sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi alergi, yang disebut antibodi imunoglobulin E (IgE).

Alergi susu sapi dapat menyebabkan gejala seperti mengi dan asma, diare, muntah, dan gangguan gastrointestinal. Reaksi lainnya termasuk eksim, ruam gatal, dan rhinitis, atau pembengkakan di hidung. Pada kasus yang parah, dapat menyebabkan perdarahan, pneumonia, dan bahkan anafilaksis, reaksi hipersensitivitas yang berpotensi fatal, bahkan bisa merenggut nyawa.

Yang perlu diwaspadai adalah, konsumsi kalium atau fosfor berlebih - keduanya tinggi dalam susu - dapat membahayakan ginjal yang tidak berfungsi dengan baik. Jika ginjal tidak bisa mengeluarkan kelebihan potasium atau fosfor dari darah, bisa jadi fatal.

Konsumsi kalsium dalam jumlah berlebih bisa menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan seperti konstipasi, batu ginjal, atau gagal ginjal. Ini termasuk ketika seseorang mengonsumsi suplemen kalsium.

Kelebihan kalsium juga dapat meningkatkan risiko deposisi kalsium di arteri, meningkatkan risiko penyakit jantung, terutama saat asupan magnesium rendah. Tingkat asupan kalsium yang dianggap tinggi adalah 2,5 gram per hari untuk individu sehat di atas usia 1 tahun.

Susu juga dikaitkan dengan peningkatan risiko sejumlah kanker pada sistem reproduksi, termasuk kanker payudara dan kanker prostat.

American Academy of Pediatrics tidak merekomendasikan susu sapi untuk bayi di bawah usia 1 tahun. Hal ini karena susu sapi mengandung zat besi dalam jumlah rendah dibandingkan dengan ASI manusia. Pemberian susu sapi untuk bayi di bawah satu tahun juga dikaitkan dengan risiko perdarahan gastrointestinal.

ASI adalah pilihan susu terbaik untuk bayi di bawah 1 tahun. Memperkenalkan susu sapi terlalu dini dapat mempengaruhi mereka untuk alergi laktosa di masa depan.

Rekomendasi ini juga berasal dari bukti bahwa konsumsi produk susu pada bayi dikaitkan dengan perkembangan diabetes dengan ketergantungan insulin (tipe 1 atau masa kanak-kanak).

Susu sapi juga mengandung residu hormon dan antibiotik, serta dioxin dan polychlorinated biphenyls (PCB). Zat ini bisa berdampak negatif terhadap kesehatan manusia, termasuk efek samping pada sistem saraf, sistem reproduksi, dan sistem kekebalan tubuh. Zat-zat tersebut mungkin berpotensi meningkatkan risiko jenis kanker tertentu.

Sementara kalsium dan vitamin D dari susu sapi dapat bermanfaat bagi kesehatan tulang, ada juga beberapa bukti bahwa protein hewani dalam makanan, misalnya, dari susu sapi, memiliki efek bersifat asam.

Efek pengasaman ini bisa berdampak negatif pada kesehatan tulang dengan menyebabkan tubuh menarik kalsium dari tulang untuk mengembalikan kadar pH darah yang optimal. Dengan demikian, manfaat kalsium dalam susu sapi mungkin jauh lebih rendah daripada yang biasanya diharapkan.

Sumber kalsium berbasis tanaman, seperti sayuran berdaun hijau, lebih efektif diserap dan digunakan daripada kalsium yang berasal dari susu sapi. Siapa saja yang memiliki alergi atau intoleransi terhadap susu sapi, atau siapa yang mempertimbangkan untuk menghindari susu sapi, bisa memilih sumber kalsium dari sayuran atau bukan produk susu, demikian Medical News Today.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check