Waspadalah, Perawatan Pribadi Pria Bisa Merusak Sperma

Waspadalah, Perawatan Pribadi Pria Bisa Merusak Sperma

12 Nov 2018

Dokterdigital.com - Guys, bersiaplah untuk mendengar berita buruk terkait sperma. Selain penelitian tentang penurunan kuantitas, sebuah studi baru menunjukkan bahwa bahan kimia dari produk perawatan pribadi juga dapat menurunkan kualitas sperma lho.

Reuters melaporkan bahwa tes laboratorium yang dilakukan pada 315 pasien pria di sebuah klinik kesuburan Polandia menunjukkan bahwa paraben, yang ditemukan pada produk sehari-hari seperti deodoran, dapat menyebabkan sperma terbentuk secara tidak normal dan bergerak lebih lambat, yang mengakibatkan masalah kesuburan.

Sampel urin, air liur, darah dan air mani menentukan kuantitas dan kualitas sperma, serta berapa banyak bahan kimia yang ditemukan di badan subjek. Data menunjukkan bahwa pria yang memiliki lebih banyak paraben yang terdeteksi dalam urin mereka juga mengalami sperma berukuran dan berbentuk tidak normal. Dilaporkan Reuters, sperma itu bergerak lambat, yang berarti mungkin tidak mampu menempuh jarak untuk membuahi sel telur wanita.

Sperma berbentuk abnormal berhubungan dengan infertilitas, sebenarnya cukup umum, menurut Dr. Landon Trost, M.D., di situs Mayo Clinic. Trost menjelaskan bahwa kebanyakan sperma berbentuk oval dan memiliki ekor yang panjang, sementara sperma abnormal bisa memiliki kepala berbentuk berbeda, ekor bengkok atau memiliki beberapa ekor. Perubahan ini bisa membuat sperma sulit masuk ke dalam telur.

Jumlah sperma, faktor lain yang digunakan dalam menentukan kesuburan pria, bisa ditentukan oleh banyak hal, sejumlah kondisi medis dan lingkungan. Infeksi, termasuk yang ditularkan secara seksual seperti gonore atau HIV, dapat menyebabkan masalah testis, sehingga mempengaruhi kesuburan. Kondisi kesehatan lainnya seperti diabetes, cedera tulang belakang dan prosedur operasi sistem kemih, juga bisa berdampak pada sperma.

Namun, ada kekhawatiran tentang faktor lingkungan, seperti bahan kimia, termasuk pestisida dan logam, pada kualitas sperma. Laporan terbaru menunjukkan bahwa kosmetik tidak seaman yang kita duga, demikian temuan dalam studi ini.

"Untuk menghindari paraben sangat sulit karena penggunaannya meluas, namun kita dapat meminimalkan paparan dengan hanya menggunakan produk perawatan pribadi dengan informasi pada label yang mengatakan bahwa tidak ada paraben pada produk tertentu," kata penulis utama studi Joanna Jurewicz dari Institut Nofer Dari Occupational Medicine di Lodz.

Menurut Administrasi Makanan dan Obat AS (FDA), paraben adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengawetkan kosmetik agar tidak menjadi lahan tumbuh bakteri dan jamur. Bentuk paraben yang umum menurut FDA antara lain methylparaben, propylparaben, butylparaben dan ethylparaben.

Sementara kita berpikir ada undang-undang yang mengatur ramuan dalam produk kecantikan yang beredar di pasaran, namun jumlahnya tidak seketat yang diharapkan.

FDA menjelaskan bahwa Federal Food, Drug, and Cosmetic Act mengizinkan kosmetik, dan semua bahannya, untuk memasuki pasar tanpa persetujuan. Satu-satunya komponen yang membutuhkan persetujuan adalah warna aditif.

Studi belum membuktikan bahwa paraben sebenarnya berbahaya bagi kesehatan, namun profesional medis memiliki kekhawatiran walaupun data hanya menunjukkan korelasi.

"Saat ini kami memiliki cukup data untuk mendapatkan perhatian, terdapat peningkatan konsekuensi kesehatan dari penggunaan bahan-bahan berbahaya,” kata James G. Wagner, profesor patologiologi dan penyelidikan diagnostik di Michigan State University seperti dikutip Teen Vogue.

Perhatian utama terletak pada pemikiran bahwa paraben bertindak seperti estrogen, yang dapat menyebabkan hormon tersebut diproduksi secara tidak normal.

"Karena sampai 70 persen kanker payudara mengekspresikan reseptor estrogen, ada kekhawatiran bahwa paraben dapat berkontribusi pada pengembangan tumor payudara," kata Wagner.

Namun para ilmuwan mengatakan bahwa kita tidak perlu menghilangkan bahan kimia itu sepenuhnya, selama kita membeli produk dari perusahaan besar bereputasi baik yang memiliki departemen keselamatan untuk memastikan kandungan paraben dalam jumlah minimal.

Ini bukan satu-satunya laporan yang mencatat terkait perubahan kualitas sperma. Pada Juli 2017, sebuah analisis terhadap penelitian menentukan bahwa jumlah sperma telah menurun, dimana pria di Amerika Utara, Eropa, Australia dan Selandia Baru memiliki kira-kira setengah dari jumlah sperma pendahulu mereka 40 tahun lalu. Penelitian ini tidak menunjukkan mengapa tren ini terjadi dan disambut dengan skeptisisme.

 

 

2018 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check