Konsumsi Gula Berlebih Pengaruhi Kesehatan Mental Pria

Konsumsi Gula Berlebih Pengaruhi Kesehatan Mental Pria

08 Jan 2019

Dokterdigital.com - Gula bisa menjadi kawan, namun juga lawan. Konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan kenaikan berat badan, juga masalah kesehatan gigi. Bukan itu saja dampak konsumsi gula bagi tubuh. Sebuah studi baru menemukan bahwa mengonsumsi terlalu banyak gula juga dapat meningkatkan risiko penyakit mental jangka panjang pada pria.

Peneliti menemukan bahwa pria yang mengonsumsi lebih dari 67 gram gula setiap hari dari makanan dan minuman yang pemanis lebih cenderung mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan mental lainnya setelah 5 tahun, dibandingkan dengan pria dengan asupan gula harian lebih rendah.

Penulis studi utama Anika Knüppel, dari Institute of Epidemiology and Public Health di University College London di Inggris, dan koleganya melaporkan temuan mereka di jurnal Scientific Reports.

Pedoman Diet untuk orang Amerika merekomendasikan bahwa gula tambahan, yaitu gula yang ditambahkan ke makanan dan minuman selama pembuatannya atau kita dengan sengaja menambahkannya - seharusnya tidak lebih dari 10 persen dari total kalori harian untuk orang dewasa dan anak-anak.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang dewasa berusia 20 dan lebih tua mengonsumsi sekitar 13 persen gula dari total kalori harian mereka antara tahun 2005 dan 2010, dimana sebagian besar gula tambahan berasal dari minuman manis, kue dan kue kering, permen, dan es krim.

Mengonsumsi terlalu banyak gula dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kerusakan gigi.

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa mungkin ada hubungan antara asupan gula tinggi dan peningkatan risiko depresi, meskipun Knüppel dan tim mencatat bahwa para peneliti menekankan hubungan ini merupakan ‘kausalitas terbalik’ (hubungan sebab akibat).

"Penyebab sebaliknya, dalam konteks ini, kemungkinan gangguan mood dapat menyebabkan asupan gula yang lebih tinggi, sehingga asosiasi kesehatan mental dan diet sepenuhnya atau sebagian disebabkan oleh kesehatan mental yang buruk daripada asupan gula yang tinggi," jelas penulis.

Dalam penelitiannya, tim bertekad untuk lebih memahami apakah konsumsi gula dapat mempengaruhi perkembangan gangguan kesehatan mental.

Knüppel dan rekannya menganalisis data dari Whitehall Study II, yang melibatkan 10.308 peserta (66,9 persen di antaranya adalah laki-laki) berusia antara 35 dan 55 tahun selama tahap pertama penelitian.

Lebih dari 22 tahun masa tindak lanjut, peserta menyelesaikan kuesioner frekuensi makanan pada empat titik waktu. Para peneliti menggunakan informasi dari kuesioner ini untuk menghitung asupan gula harian peserta dari 15 makanan dan minuman pemanis, termasuk soda, kue, dan teh dan kopi.

Subjek juga menyelesaikan kuesioner kesehatan umum dan wawancara pada banyak titik waktu selama masa tindak lanjut, yang digunakan tim untuk mengidentifikasi pengembangan gangguan kesehatan mental partisipan, seperti kecemasan dan depresi.

Dibandingkan dengan pria yang memiliki asupan gula harian paling rendah (di bawah 39,5 gram sehari), pria yang memiliki asupan gula harian tertinggi (lebih dari 67 gram setiap hari) 23 persen lebih mungkin mengalami gangguan jiwa umum 5 tahun kemudian.

Temuan ini tetap ada bahkan setelah memperhitungkan beberapa faktor pembaur yang mungkin, termasuk faktor sosiodemografi, faktor makanan lain, dan adanya masalah kesehatan lainnya.

Namun tidak ada hubungan antara kejadian gangguan kesehatan mental dan asupan gula yang diamati pada wanita.

Selain itu, para periset menemukan bahwa pria dan wanita dengan gangguan mood yang memiliki asupan gula harian tinggi cenderung mengalami depresi setelah 5 tahun, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi gula lebih rendah.

Namun, asosiasi ini berkurang begitu diketahui sosiodemografi dan faktor diet dan kesehatan lainnya ikut dihitung.

Menariknya, tim juga menemukan bahwa asupan gula di antara pria dan wanita dengan gangguan kesehatan mental tidak lebih tinggi daripada pria dan wanita tanpa gangguan kesehatan mental. Ini menggagalkan teori bahwa kaitan antara asupan gula tinggi dan risiko gangguan kesehatan mental yang lebih besar adalah untuk terkait sebab-akibat.

Berdasarkan temuan mereka, Knüppel dan tim percaya bahwa kita sebisa mungkin menjauhi makanan bergula sebagai sarana untuk meningkatkan mood, karena konsumsi gula bisa jauh lebih berbahaya dampaknya.

"Makanan manis memang menimbulkan perasaan positif dalam jangka pendek. Orang-orang yang sedang tidak bersemangat  akan makan makanan bergula dengan harapan mengurangi perasaan negatif Studi kami menunjukkan asupan makanan manis yang tinggi lebih cenderung memiliki efek sebaliknya pada kesehatan mental dalam jangka panjang,” tandas peneliti seperti dikutip Medical News Today.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check