Sentuhan Bantu Redakan Rasa Sakit

Sentuhan Bantu Redakan Rasa Sakit

26 Jun 2017

Dokterdigital.com - Pasangan kekasih sebaiknya tak saling berjauhan. Detak jantung dan pola respirasi orang tercinta cenderung tersinkronisasi saat pasangan saling berdekatan.

Namun, apa peran sentuhan dalam sinkronisasi ini, dan apa yang terjadi saat salah satu pasangan sedang mengalami sakit?

Perhatikan, saat berjalan di samping pasangan, langkah kita cenderung disinkronkan? Atau saat kita bicara dengan teman dekat, kita cenderung mengadopsi sikap tubuh yang sama seperti mereka.

Nama ilmiah untuk ini adalah "perilaku sinkron" dan ini mengacu pada kemampuan manusia untuk selaras dengan orang lain demi hidup dalam masyarakat.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa orang tidak hanya mampu menyinkronkan perilaku mereka, tetapi juga dapat menyinkronkan fisiologi mereka.

Sinkronisasi interpersonal bisa terwujud dalam berbagai cara. Misalnya, saat orang menonton film yang sama, aktivitas otak mereka disinkronkan. Begitu pula saat kekasih saling menatap mata masing-masing, jantung mereka berdetak seirama.

Penelitian baru yang dilakukan oleh para ilmuwan di University of Colorado (CU) Boulder mengeksplorasi peran sentuhan dalam mendorong sinkronisasi interpersonal dalam konteks rasa sakit.

Tim ini dipimpin oleh Pavel Goldstein, peneliti nyeri postdoctoral di Laboratorium Cognitive and Affective Neuroscience di CU Boulder, dan temuan tersebut dipublikasikan di jurnal Scientific Reports.

Dr. Goldstein menjelaskan apa yang mendorong penelitiannya, dengan mengatakan, "Istri saya kesakitan, dan yang bisa saya pikirkan hanyalah apa yang bisa saya bantu? Saya meraih tangannya dan sepertinya membantu. Saya ingin mengujinya di laboratorium: Dapatkah seseorang benar-benar mengurangi rasa sakit dengan sentuhan, dan jika ya, bagaimana?”

Dr. Goldstein dan rekan mengumpulkan 22 pasangan heteroseksual untuk penelitian ini, yang semuanya berusia antara 23 dan 32 tahun.

Para periset meminta pasangan untuk berpartisipasi dalam serangkaian tes yang mereplikasi pengalaman berada di ruang persalinan. Peserta perempuan diberi peran sebagai "penerima nyeri" sementara pria tersebut adalah "pengamat rasa sakit."

Dr. Goldstein dan tim mencatat tingkat pernapasan partisipan dan detak jantung menggunakan elektrokardiogram di bawah kondisi sakit dan tidak ada kondisi nyeri, dan juga pada kondisi sentuhan dan tanpa sentuhan.

Di bawah kondisi tidak ada rasa sakit, pasangan duduk bersama tanpa bersentuhan, duduk bersama sambil berpegangan tangan, atau berada di ruangan terpisah. Dalam skenario rasa sakit, ketiga situasi diulang, dan wanita dikondisikan mengalami "rasa panas ringan" selama 2 menit.

Studi tersebut mengonfirmasi temuan sebelumnya dan menunjukkan bahwa pasangan melakukan sinkronisasi secara fisiologis hanya dengan berada di kondisi masing-masing.

Ketika seorang wanita mengalami rasa sakit dan pasangannya tidak menyentuhnya, kopling fisiologis itu sangat berkurang. Namun, ketika pasangan pria memegang tangannya, detak jantung dan tingkat pernapasan disinkronkan lagi, dan rasa sakit wanita berkurang. Selain itu, berpegangan tangan meningkatkan empati pasangan pria.

Secara keseluruhan, sentuhan tampaknya memainkan peran kunci dalam sinkronisasi interpersonal, karena meningkatkan kopling fisiologis terlepas dari apakah wanita tersebut dalam keadaan sakit atau tidak.
Ini menegaskan penelitian Dr. Goldstein sebelumnya yang menunjukkan bahwa pria yang lebih berempati pada pasangan, maka akan mengurangi rasa sakit.

"Bisa jadi sentuhan itu adalah alat untuk mengkomunikasikan empati, menghasilkan efek analgesik atau rasa sakit," kata Goldstein. Kopling interpersonal juga dapat meningkatkan efek analgesik sentuhan menggunakan sistem saraf otonom.

Goldstein juga menduga bahwa sinkronisasi interpersonal dapat mempengaruhi wilayah otak yang disebut korteks cingulate anterior, yang telah dikaitkan dengan pengambilan keputusan, interaksi sosial, persepsi nyeri, baik pada diri sendiri maupun orang lain, dan empati, demikian dilaporkan Medical News Today.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check