Menguak Hubungan Erat Diabetes dan Infeksi Jamur

Menguak Hubungan Erat Diabetes dan Infeksi Jamur

02 Aug 2019

Dokterdigital.com - Ragi (yeast) atau jamur hidup secara alami di tubuh kita. Namun, jika mulai tumbuh berlebih dan menjadi infeksi jamur, hal itu bisa menimbulkan masalah.

Ragi dapat ditemukan di kulit dan di dekat selaput lendir dan membantu menjaga koloni bakteri tetap terjaga. Penumpukan ragi disebut infeksi ragi dan bisa menyebabkan rasa sakit, gatal, dan ketidaknyamanan.

Ragi tumbuh subur di daerah lembab hangat sehingga infeksi jamur dapat terjadi di beberapa tempat, antara lain mulut, alat kelamin, di bawah payudara, juga di bawah lipatan kulit. Dari infeksi tersebut, infeksi jamur vagina adalah yang paling umum.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 75 persen wanita memiliki infeksi jamur vagina setidaknya sekali dalam kehidupan mereka.

Hubungan diabetes dan infeksi jamur

Orang dengan diabetes yang kurang terkontrol berada pada risiko lebih tinggi terkena infeksi jamur yang lebih parah dan sering.

Imuwan masih berusaha memahami sepenuhnya bagaimana diabetes dikaitkan dengan pertumbuhan jamur berlebih. Namun, ada beberapa kemungkinan yang memicu hal ini, antara lain karena kelebihan gula di daerah yang menjadi favorit tumbuhnya jamur. Bila kadar glukosa darah tinggi, gula ekstra bisa disekresikan di lendir, keringat, juga air seni.

Karena jamur memakan gula, sekresi glukosa menjadi alasan pertumbuhan jamur berlebih.

Peningkatan kadar glikogen, polisakarida yang digunakan untuk menyimpan glukosa, juga terjadi pada diabetes. Ekstra glikogen di daerah vagina dapat menyebabkan penurunan pH, yang membantu pertumbuhan ragi atau jamur.

Sebuah studi di American Journal of Obstetrics and Gynecology memberikan bukti untuk ini, menggunakan tikus betina yang dikondisikan diabetes.

Sistem kekebalan tubuh menurun

Diabetes yang kurang terkontrol telah terbukti menghambat respons kekebalan tubuh. Ini bisa menjadi bagian dari alasan mengapa seseorang dengan diabetes mungkin mengalami kesulitan melawan infeksi jamur.

Hubungan yang tepat antara diabetes dan sistem kekebalan tubuh masih diselidiki. Namun, sebuah penelitian tahun 2015 mengungkapkan bahwa hiperglikemia dapat menyebabkan tertekannya protein kekebalan tubuh. Protein ini disebut beta-defensins, yang membantu sel kekebalan bergerak menuju infeksi dan membunuh mikroba.

Dengan pemblokiran fungsi ini, infeksi jamur yang bisa dihindari dengan mudah pada orang sehat, bisa berkembang pada seseorang dengan diabetes yang tidak terkontrol.

Begitu jamur telah menguasai daerah tertentu akan lebih mudah bagi infeksi untuk kembali. Dengan demikian, seseorang yang rentan terhadap infeksi jamur - karena diabetes yang kurang terkontrol - juga berisiko tinggi mengalami masalah berulang.

Diabetes juga bisa mempermudah ragi dan patogen lainnya melekat pada sel kulit dan kelenjar lendir. Ini mungkin karena adanya tambahan gula, yang memungkinkan jamur untuk berkoloni pada tingkat yang tidak sehat.

Infeksi jamur dapat bermanifestasi dalam berbagai cara di berbagai bagian tubuh. Infeksi kulit bisa menyebabkan sedikit perubahan warna atau gatal, ruam bersisik. Pada pria, infeksi ragi genital bisa menyebabkan ruam gatal pada penis.

Sementara infeksi jamur genital pada laki-laki jauh lebih jarang terjadi daripada infeksi ragi vagina, pria dengan diabetes yang kurang terkontrol memiliki risiko tinggi mengembangkan infeksi jamur di organ genital.

Ada beberapa tanda umum infeksi jamur vagina, antara lain gatal pada vagina, terasa terbakar, atau nyeri; mengeluarkan cairan seperti keju cottage; sensasi terbakar atau sakit saat buang air kecil, juga munculnya bau tak sedap.

Infeksi jamur berbagi gejala dengan infeksi saluran kemih dan infeksi menular seksual tertentu. Jika menemukan ciri-ciri seperti disebutkan tadi, segera kunjungi dokter.

Infeksi jamur bisa diobati, bahkan pada penderita diabetes. Menurut CDC, obat antijamur oral dalam waktu singkat bisa efektif menyembuhkan infeksi jamur hingga 80-90 persen. Jika infeksi tidak sembuh dengan cara ini, biasanya infeksi ini bisa ditangani dengan terapi yang lebih lama.

Bila infeksi jamur telah diobati, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi berulang kembali, yaitu:

1. Pilih pakaian dalam katun memberikan kulit bernapas, usahakan hindari celana yang pas.

2. Hindari sabun wangi, douches, tampon dan bantalan beraroma. Produk ini bisa mengubah pH (tingkat keasaman) vagina, mengganggu keseimbangan alami jamur dan bakteri.

3. Usahakan kulit dilap dengan benar setelah mandi, dan pastikan organ genital dan lipatan kulit bersih dan kering sepanjang hari.

4. Makan yogurt, atau coba suplemen probiotik untuk mengendalikan pertumbuhan jamur.

Riset membuktikan konsumsi 8 ons yogurt setiap hari, mengandung kultur probiotik hidup, atau menggunakan kapsul probiotik Lactobacillus acidophilus, dapat membantu mencegah infeksi jamur. Saccharomyces boulardii adalah strain probiotik lain yang telah terbukti memerangi pertumbuhan jamur.

Selain itu, tindakan pencegahan yang paling penting untuk penderita diabetes adalah untuk mencapai kontrol glukosa darah yang lebih baik.

Dengan bantuan dokter, penderita diabetes dapat mengatur rencana untuk menurunkan kadar glukosa darah yang lebih rendah. Ini mungkin melibatkan perubahan diet, menambahkan rutinitas berolahraga, atau mengatur insulin atau rejimen pengobatan.

Menghindari hiperglikemia tidak hanya penting untuk mencegah infeksi jamur. Hal ini juga bermanfaat untuk kesehatan jantung, fungsi sistem saraf, penglihatan, kesehatan skeletomuskular, serta kesehatan secara menyeluruh demikian Medical News Today.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check