Konsumsi Gula Selama Kehamilan Tingkatkan Risiko Hati Berlemak

Konsumsi Gula Selama Kehamilan Tingkatkan Risiko Hati Berlemak

21 Mar 2019

Dokterdigital.com - Diet tinggi gula mengandung fruktosa yang dimakan selama kehamilan atau saat menyusui dapat menyebabkan keturunan memiliki hati berlemak, yang dapat meningkatkan peluang mereka terkena obesitas atau diabetes tipe 2.

Hal itu terungkap dalam sebuah studi pada tikus yang diterbitkan di The Journal of Physiology, baru-baru ini.

Sejumlah sereal, minuman ringan bergula dan makanan olahan lainnya mengandung gula fruktosa, termasuk sukrosa dan sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS). Kelebihan konsumsi gula adalah penyumbang utama obesitas dan diabetes tipe 2.

Beberapa penelitian telah menunjukkan dampak diet tinggi gula yang mengandung fruktosa pada keturunan (anak) selama dan setelah kehamilan. Penelitian ini menunjukkan bahwa diet ibu mengandung gula tinggi fruktosa selama dan setelah kehamilan dapat menyebabkan hati berlemak pada bayinya.

Hal ini penting disoroti mengingat dapat berdampak negatif terhadap kesehatan metabolik anak-anak, yang berkontribusi terhadap perkembangan obesitas atau diabetes tipe 2 di masa depan.

Para periset memberi tikus betina air ditambah dengan gula yang mengandung fruktosa (sukrosa atau HFCS) pada jumlah yang setara dengan minuman ringan standar, sebelum, selama dan setelah kehamilan.

Setelah melahirkan, keturunan tikus itu disapih oleh seorang ibu yang memiliki akses ke minuman mengandung fruktosa yang sama, atau oleh orang yang hanya memiliki akses terhadap air saja.

Bobot tubuh, massa lemak dan kontrol glukosa pada anak-anak tikus diukur dan jaringannya dianalisis untuk melihat jumlah dan jenis lemak di hati mereka. Tikus yang lahir dari ibu yang memiliki diet tinggi gula fruktosa memiliki kandungan lemak dan komposisi yang merugikan di hatinya.

Hal ini terutama berlaku untuk keturunan yang disapih oleh ibu yang mengonsumsi minuman yang mengandung fruktosa. Ini menunjukkan bahwa waktu paparan gula fruktosa penting, menyoroti implikasi terhadap ibu menyusui.

Dr Sheridan Gentili, dosen senior Ilmu Pengetahuan Biologi di University of South Australia dan peneliti utama studi tersebut mengatakan, penelitian ini menyoroti pentingnya nutrisi ibu selama periode menyusui. “Pedoman untuk mengonsumsi gula tambahan atau minuman manis selama kehamilan harus mempertimbangkan hal ini,” ujarnya seperti dilaporkan Medical News Today.

“Karena ada perbedaan fisiologi antara manusia dan hewan pengerat, kita perlu berhati-hati saat menerjemahkan penelitian ini secara langsung ke manusia,” pungkasnya.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check