Begini Cara Menolong Korban Kecelakaan Lalu Lintas agar Tak Memperparah Kondisinya

Begini Cara Menolong Korban Kecelakaan Lalu Lintas agar Tak Memperparah Kondisinya

12 Apr 2017

Dokterdigital.com - Kecelakaan lalu lintas kadang menjadi hal yang tak bisa dihindari, bahkan ketika kita sudah mencoba berhati-hati. Saat terjadi kecelakaan, sudah menjadi naluri, kita tergerak untuk membantu. Sayangnya, tanpa pengetahuan yang cukup, memberikan pertolongan pada korban kecelakaan malah bisa memperparah kondisinya.

Masih banyak orang yang 'asal menolong' korban kecelakaan. Padahal, cara penanganan yang salah di tempat kejadian malah akan menyebabkan luka atau trauma yang dialami korban kian parah, demikian diungkapkan ahli bedah RS Tebet Jakarta dr Yesaya Baringin, SpB, FCSI.

Trauma atau kecelakaan menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah lambatnya penanganan pada korban. Untuk meminimalkan kesalahan saat menolong korban kecelakaan, masyarakat perlu memahami dasar-dasar dalam memberikan pertolongan, antara lain:

1. Jangan panik

Hal pertama yang harus diingat adalah, tetap tenang, jangan panik. Kepanikan hanya akan membuat kita tak bisa berpikir jernih. Usahakan menghubungi tim medis untuk mendapatkan pertolongan.

2. Panggil orang lain untuk turut membantu

Hal yang perlu dilakukan adalah memindahkan korban di posisi aman. Jika ia tergeletak di tengah jalan, usahakan untuk memindahkan korban ke pinggir. Saat memindahkan korban, jangan asal ditarik. "Jangan mengangkat kaki pasien lebih dulu atau jangan mengangkat badan dan kepalanya terlebih dahulu. Angkat tubuhnya secara keseluruhan ke lokasi yang lebih aman," kaya Yesaya dalam temu media menandai peringatan ulang tahun RS Tebet ke 35 di Taman Tebet, baru-baru ini.

Untuk itulah dibutuhkan minimal tiga orang untuk mengangkat bagian kepala, tubuh dan kaki secara bersamaan. Posisi tubuh saat dipindahkan sebaiknya lurus, sejajar antara posisi kepala dan kaki.

3. Pastikan napas korban

Cek kondisi korban, apakah ia sadar atau pingsan, dengan memeriksa hidung atau nadi di pergelangan tangan. Jika korban pingsan, usahakan menolongnya agar tersadar misalnya dengan memberikan napas buatan.

4. Hindari menggerakkan tulang korban

Jika mencurigai ada tulang yang patah, jangan mencoba menggerakkan bagian itu karena bisa memperparah kondisinya. Tanda dan gejala patah tulang diantaranya adalah bengkak atau lebam di atas tulang, perubahan bentuk dari anggota tubuh yang cedera, rasa nyeri setempat yang semakin hebat bila lokasi itu digerakkan, atau tulang patah yang menonjol keluar dari kulit.

Hal yang bisa dilakukan adalah memasangkan kayu atau karton di bagian yang diduga mengalami patah tulang, tutup dengan kasa atau kain panjang (dalam kondisi darurat) kemudian diikat menggunakan tali.

Apabila bagian leher tak bisa digerakkan, kemungkinan terjadi luka atau trauma di bagian itu. Usahakan posisi leher diam, karena di bagian ini terdapat saraf yang terkait dengan pernapasan. Salah memberikan penanganan pada leher bisa menyebabkan henti napas yang berbahaya bagi korban kecelakaan.Amankan leher dengan memberikan gips. Jika tak tersedia, gunakan koran yang dilipat tebal, selanjutnya pasangkan pada leher korban. Tujuannya tak lain agar leher dalam posisi diam tak bergerak. "Imobilisasi leher agar tidak bergerak. Tujuannya agar cedera tidak tambah parah," ujar Yesaya.

5. Perdarahan

Jika terjadi perdarahan maka tekan luka dengan kain bersih, atau langkah paling aman adalah ikat di bagian atas luka agar darahnya tak terus mengalir. “Idealnya buka ikatan setiap lima menit, sambil menunggu perjalanan ke rumah sakit,” kata Yesaya.

Setelah semua sudah selesai dilakukan, bawa korban tersebut ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan lebih lanjut.

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check