Inilah Alasan Stres dan Depresi Bikin Orang Kalah Melawan Kanker

Inilah Alasan Stres dan Depresi Bikin Orang Kalah Melawan Kanker

28 Jun 2019

Dokterdigital.com - “Kalau ingin dijauhi kanker, berusahalah jauhi stres. Kalau nggak bisa menghindari stres, sebaiknya kelola stres dengan baik.” Nasihat itu sekilas remeh, namun terbukti benar. Stres, kecemasan dan depresi kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker.

Studi terkini mengungkap, berdasar catatan medis lebih dari 160 ribu orang dewasa di Inggris dan Wales, mereka yang mengalami tekanan lebih mungkin ‘kalah dan menyerah’ oleh kanker, terutama jenis kanker prostat, usus dan pankreas.

David Batty dari University College London dalam laporannya yang dimuat di jurnal BMJ mengatakan, kanker darah dan kerongkongan juga diketahui lebih tinggi terjadi di kelompok yang sering stres.

Para peneliti berhati-hati menarik kesimpulan bahwa meski terbukti secara statistik namun belum tentu menunjukkan sebab-akibat antara kondisi psikologis dan kanker.

Tak bisa dimungkiri, temuan ini menambah bukti bahwa kesehatan mental dan fisik tidak bekerja secara terpisah, dengan kata lain keduanya saling berkaitan.

Penelitian sebelumnya menemukan depresi kronis dan kecemasan mungkin menyebabkan penyakit jantung serta stroke.  Namun hubungan antara kondisi pikiran dan kanker, menimbulkan banyak hasil yang beragam.

Batty memimpin penelitian yang melibatkan data mentah dari 16 studi jangka panjang. Jumlah total responden dalam studi ini mencapai 163 ribu orang di atas usia 16 tahun.

Peserta dipantau rata-rata selama satu decade, dimana 4.300 orang di antaranya meninggal karena kanker. Peneliti mengamati beragam aspek seperti tekanan psikologis, gaya hidup, dan kejadian kanker.

Depresi diketahui mengganggu keseimbangan hormon hingga memicu produksi kortisol sehingga menghambat perbaikan DNA. Kedua hal tersebut melemahkan upaya tubuh melawan kanker.

Penelitian juga menemukan orang yang kerap bersedih lebih mungkin terjebak pada kebiasaan merokok, minum minuman keras, dan kegemukan. Semua kebiasaan tersebut tinggi dengan risiko kanker.

Terlepas dari faktor gaya hidup, peneliti menemukan orang yang mengaku depresi dua kali lebih mungkin meninggal karena kanker usus, dua kali cenderung menyerah pada kanker pankreas, dan kerongkongan. Angka leukimia juga lebih tinggi pada orang jenis ini.

"Stres mungkin bisa jadi konsekuensi dari tahap awal keganasan dibanding sebagai sebuah prediksi yang potensial," tulis peneliti. "Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan hubungan ini.”

Para peneliti menjelaskan, bila seseroang diketahui mengidap kanker, orang tersebut cenderung mengalami penurunan semangat hidup. Karena alasan inilah tim peneliti tidak dapat mengelak bahwa depresi juga bisa jadi akibat dari kanker, bukan semata berperan sebagai sebab penyakit, demikian dilaporkan AFP.

 

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check