Gampang Berkeringat Berlebih? Hati-hati Rentan Depresi

Gampang Berkeringat Berlebih? Hati-hati Rentan Depresi

06 Dec 2017

Dokterdigital.com - Suka mengeluarkan keringat berlebihan? Jangan-jangan ini bukan semata karena stres atau dalam posisi tertekan.

Menurut studi yang dilakukan di Saint Louis University School of Medicine, sebanyak 27 persen orang yang mengeluarkan keringat berlebih alias hiperhidrosis terbukti positif mengidap depresi. Riset yang sama juga menunjukkan, sekitar 21 persen mereka yang mengalami hiperhidrosis juga ternyata mengaku punya kecemasan berlebihan.

Namun, studi itu tidak menunjukkan bukti bahwa hiperhidrosis menyebabkan kedua gangguan mental tersebut. “Di beberapa kasus, hiperhidrosis jadi gejala yang menyertai kecemasan berlebihan,” ujar ketua peneliti Dr. Youwen Zhou.

Dr. Zhou beserta timnya, melakukan studi terhadap lebih dari dua ribu pasien hiperhidrosis di dua klinik dermatologi, yang berlokasi di Kanada dan China. Para partisipan diharuskan menjawab kuesioner yang bisa mengukur tingkat depresi dan kecemasan.

Hasilnya, kedua kondisi gangguan mental tersebut ternyata umum terjadi di pasien hiperhidrosis. Tingkat gangguan mental yang terjadi juga berbanding lurus dengan tingkat produksi keringat. Dengan kata lain, semakin banyak produksi keringat, semakin tinggi juga gangguan kecemasan dan depresi yang terjadi.

“Studi ini membuktikan ada kaitan antara hiperhidrosis dengan depresi dan kecemasan,” kata Zhou, yang mengepalai Vancouver Hyperhidrosis Clinic di University of British Columbia, Kanada.

Dr. Dee Glaser, profesor dermatologi di Saint Louis University School of Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian, menyebut studi ini tidak bisa menjadi dasar bahwa mengontrol hiperhidrosis bisa mengatasi kecemasan dan depresi.

Menurut Glaser, adanya produksi keringat berlebih bisa jadi pertimbangan lebih lanjut untuk diagnosis depresi dan kecemasan berlebihan. “Jika diperlukan, dokter kulit bisa merujuk pasien dengan hiperhidrosis ke psikolog untuk diagnosis lebih lanjut,” jelasnya.

Sebagai informasi, hiperhidrosis merupakan kondisi medis di mana seseorang memproduksi keringat tiba-tiba dan berlebih, termasuk saat mereka dalam keadaan santai, atau tengah berada di ruangan sejuk.

Kondisi tersebut bisa diatasi dengan antiperspirant kuat, suntik Botox, atau terapi elektrik untuk mengurangi aktivitas kelenjar keringat dalam tubuh, demikian menurut International Hyperhidrosis Society,.

Di sisi lain, hiperhidrosis ini juga bisa membuat orang merasa rendah diri dan memilih menghindari aktivitas sosial. Hal ini  bisa memicu depresi dan kecemasan.

“Bagi mereka yang tidak memiliki hiperhidrosis, bisa dengan mudah berpikir, ‘oh itu hanya keringat’, namun bagi mereka yang merasakannya, bersosialisasi adalah beban berat yang bisa memicu depresi dan kecemasan,” paparnya.

Zhou sependapat dengan Glaser, bahwa penelitian itu tidak menggarisbawahi hiperhidrosis sebagai penyebab depresi dan kecemasan. “Dibutuhkan penelitian lebih jauh untuk mencari penyebab depresi dan kecemasan pada pengidap hiperhidrosis,” ujarnya.

Meskipun begitu, Zhou menganjurkan mereka yang memiliki hiperhidrosis sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi mental mereka.  “Jangan hanya diam dan menganggap itu hal biasa,” imbuhnya.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Journal of the American Academy of Dermatology, edisi Desember, demikian dilaporkan Live Science.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check