Lebih Sehat Mana: Buah Potong atau Jus?

Lebih Sehat Mana: Buah Potong atau Jus?

18 Nov 2016

Dokterdigital.com - Bagaimana cara kamu mengonsumsi buah dan sayur? Dimakan dalam bentuk buah potong, lalapan, dalam wujud salad berikut mayones, jus atau bahkan yang kekiniaan semacam smoothie.

Banyak yang percaya bahwa mengonsumsi sayur dan buah dalam kondisi utuh tanpa perlu banyak melalui proses pengolahan atau modifikasi jauh lebih memberikan manfaat kesehatan. Apakah ini mitos atau fakta?

Menurut dokter spesialis gizi klinik Stella Bela dari RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, asupan buah dan sayur dalam bentuk utuh atau jus hanya berbeda dalam kepraktisannya saat dikonsumsi.

Menurut Stella, yang lebih penting untuk diperhatikan adalah kritis terhadap kandungan serat dalam minuman jus. “Serta apakah yang ditawarkan memang benar jus buah dan sayur, bukan hanya perisa,” kata Stella dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Konsumsi serat masyarakat Indonesia boleh dibilang sedikit. Banyak alasan orang Indonesia kurang serat, salah satunya alasan kesibukan dan tidak praktis.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan, pada 2013, konsumsi sayuran dan buah-buahan masyarakat Indonesia masih kurang. Konsumsi masyarakat justru lebih tinggi terhadap makanan yang berisiko bagi kesehatan, termasuk bumbu penyedap mencapai 77 persen, diikuti makanan dan minuman manis macam sirup 53 persen, serta makanan berlemak 40 persen.

Mengingat masyarakat masih kurang konsumsi serat, banyak produsen menawarkan beragam sumber serat, entah dalam bentuk makanan, minuman atau suplemen, yang diklaim praktis.

Stella mengingatkan, jangan asal mengonsumsi minuman berserat siap saji. “Perhatikan kalori yang dikandung. Jangan berlebihan,” kata Stella.

Meski tersedia sumber serat praktis dan siap saji, namun konsumsi serat langsung dari buah dan sayur tetap menawarkan manfaat positif lain, terutama bagi organ kunyah, gigi dan mulut, khususnya anak-anak.

Menurut psikolog Ayoe Sutomo, pada anak-anak sebaiknya kenalkan sayur dan buah dalam bentuk aslinya sebagai sumber serat. “Ketika makan makanan asli seperti daging buah dan sayuran[segar], akan ada simulasi yang bekerja di rongga mulut," kata Ayoe.

Konsumsi buah dan sayur ini akan merangsang aktivitas mengecap, menggigit, mengunyah, hingga menelan yang berpengaruh pada pembentukan kemampuan organ mulut.

Indera pengecap, yaitu lidah, yang terlatih selama waktu makan akan memberikan kemampuan berbicara lebih baik dibanding mereka yang jarang menggunakan indera pengecap, dan kegiatan menggigit bisa merangsang pertumbuhan gigi.

Bagi anak-anak yang belum bisa menggigit sayur dan buah dengan sempurna, bolehlah dilumatkan namun tidak terlalu lembut, sehingga masih ada tekstur kasar yang bias merangsang calon gigi untuk belajar mengunyah.

Anak-anak yang diperkenalkan sayur dan buah sejak dini, misalnya dalam bentuk finger food, akan menyukai makanan ini saat ia dewasa. “Sajikan buah dan sayur dalam bentuk yang lebih menarik supaya anak tetap minat untuk makan buah atau sayur," pungkas Ayoe.***

 

2017 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check