telegraph

Kerap Alami Jel Lag? Hormon Ini Biang Keladinya

23 May 2018

Dokterdigital.com - Anda kerap merasakan jet lag setelah bepergian lintas negara dengan zona waktu yang berbeda? Mungkin hormon vasopresin jadi salah satu penyebabnya.

Temuan dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science (3/10) bisa membantu ilmuwan mengembangkan obat untuk membantu pelancong menghindari perasaan grogi.

Siapapun yang telah terbang di beberapa zona waktu tahu rasanya frustrasi terbangun di tengah malam atau tengah hari karena jam sirkadian tubuh butuh berhari-hari untuk menyesuaikan diri dengan waktu yang baru. Biasanya, dibutuhkan satu hari untuk seseorang menyesuaikan untuk setiap jam dalam perbedaan zona waktu saat mereka ketika melakukan perjalanan. Orang yang bepergian dari Jepang ke California, misalnya, akan butuh delapan hari untuk benar-benar menyesuaikan diri, kata rekan penulis studi Hitoshi Okamura, seorang peneliti jam sirkadian di Kyoto University di Jepang.

Ada beberapa cara untuk mengelabui jam internal tubuh dan upaya menghindari jet lag. Menahan lapar sebelum pergeseran waktu tampaknya membantu, karena hewan cenderung untuk menggeser jam tidur normal jika mereka lapar.

Okamura dan rekan-rekannya melihat bahwa daerah otak yang mendorong jam master internal, yaitu suprachiasmatic nucleus (SCN), penuh reseptor untuk vasopresin. Hormon ini dikenal memiliki peran termasuk mempertahankan keseimbangan garam tubuh dengan mengarahkan ginjal untuk menahan air, dan membantu menyempitkan pembuluh darah. Studi-studi lain telah mengaitkan vasopresin dengan perasaan cinta dan kemurahan hati.

Okamura bertanya-tanya tentang fungsi dari semua reseptor vasopresin di wilayah jam otak. Untuk mengetahuinya, tim menciptakan rekayasa genetika tikus “knockout"  yang kekurangan reseptor otak untuk hormon tersebut.

Mereka kemudian memperlakukan tikus untuk hal terbaik berikutnya untuk penerbangan antar benua, yaitu mengganggu jadwal siang dan malamnya.

"Ini adalah perbedaan waktu tujuh hingga delapan jam, namun pada tikus, mereka segera beradaptasi dengan siklus baru,” kata Okamura seperti dikutip LiveScience. Untuk orang, penyesuaian diri dengan zona waktu yang baru akan butuh setidaknya satu minggu.

Hal itu menunjukkan bahwa aksi vasopresin di otak bertanggung jawab untuk jet lag.

Selanjutnya, mereka memberi tikus normal senyawa eksperimental yang memblokir reseptor vasopresin yang ditemukan di otak, tetapi bukan bagian tubuh lainnya, tidak secepat tikus yang kekurangan reseptor vasopressin, namun jauh lebih pendek ketimbang periode penyesuaian biasa.

Temuan ini menunjukkan bahwa obat yang menghalangi reseptor vasopresin hanya di otak dapat mengurangi gangguan jet lag ini.

Namun penelitian lebih lanjut dibutuhkan bagaimana jika hal ini diterapkan pada manusia sebelum obat jet lag siap dirilis ke pasar, kata Okamura.

Temuan ini juga dapat berguna untuk pekerja shift, katanya. "Pekerja shift cenderung memiliki insiden tinggi hipertensi, sindrom metabolik dan kanker payudara, sehingga obat untuk menghindari jam tubuh yang terganggu bisa membantu mereka juga,” kata Okamura.
 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check