Ingin Langsing, Coba Sarapan dengan Makanan Tinggi Protein

Ingin Langsing, Coba Sarapan dengan Makanan Tinggi Protein

06 Dec 2019

Dokterdigital.com - Siapa yang nggak mau tampil lebih langsing? Demi mencapai tubuh lebih kurus, banyak yang menyarankan untuk banyak konsumsi buah dan sayur.

Ada juga yang saran untuk makan telur atau sereal sebagai menu sarapan demi menjaga kesehatan dan mempertahankan bentuk tubuh tetap ramping.

Namun pelatih kebugaran asal London, Greg Cornthwaite, justru menyarankan untuk mengubah menu sarapan dengan daging. Nah. Ini saran yang agak tidak biasa.

Cornthwaite beranggapan bahwa dengan mengonsumsi makanan tinggi protein, lemak sehat dan rendah karbohidrat dalam daging tertentu justru akan mencegah tubuh menimbun lemak. Daging yang dipilih oleh Cornthwaite adalah daging rusa, steak, domba dan daging cincang.

"Sarapan ini harus memberikan tubuh protein esensial dan lemak untuk mulai melakukan metabolisme dan menyeimbangkan kadar gula dalam darah," kata Cornthwaite seperti dikutip Daily Mail.

"Kondisi ini mengharuskan tubuh untuk kenyang lebih lama agar mencegah dari asupan gula hingga waktu makan siang," imbuh Cornthwaite.

Cornthwaite menyarankan sejumlah menu demi tampil langsing, yaitu:

Daging cincang dengan potongan brokoli serta bawang merah yang ditumis dengan minyak kelapa. Menu ini dinilai tinggi akan kandungan zinc, vitamin A, B1, B12, B6, zat besi, kalium, dan kalsium.

Namun bila ingin mencoba sarapan yang sedikit lebih mewah, daging rusa dengan sayuran hijau dan tomat dimasak dengan minyak kelapa bisa jadi pilihan. Menu ini memiliki kandungan lengkap vitamin A, B6, C dan K, serta serat dan kalium.

Apabila mengonsumsi daging merah terasa kurang sehat, menu lain yang dapat dicoba adalah memanfatkan ikan.

Ikan, seperti makarel, cukup layak tersaji saat pagi hari karena mengandung protein tinggi, asam lemak omega-3 yang baik bagi otak, vitamin A, B1, B6, E, kalium, magnesium, kalsium, juga zat besi.

"Semua menu tersebut akan memberikan tubuh protein esensial dan lemak untuk memulai metabolisme serta menyeimbangkan kadar gula darah tubuh," kata Cornthwaite.

Namun Cornthwaite wanti-wanti, kondisi masing-masing orang berbeda dalam mencerna makanan lantaran faktor genetik. Ia pun menyadari tidak semua orang cocok dengan pola diet yang ia berikan.

"Inilah mengapa gizi menjadi topik yang sering diperdebatkan karena tidak ada makanan yang cocok untuk semua orang," kata Cornthwaite. "Bila tubuh benar-benar sensitif terhadap karbohidrat, maka ia akan diproses secara efisien dan mengubahnya menjadi energi dan cadangan energi sehingga tidak menambah lemak."

"Namun bila tubuh kurang sensitif terhadap karbohidrat, tubuh lebih mungkin mengubah karbohidrat menjadi energi," pungkasnya.***
 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check