Inilah Alasan FDA Larang Penjualan Sabun Antiseptik

Inilah Alasan FDA Larang Penjualan Sabun Antiseptik

05 Sep 2016

Dokterdigital.com -  Badan Pengawas Obat dan Makanan  Amerika Serikat (FDA)  secara resmi melarang penjualan berbagai jenis sabun yang mengandung satu atau lebih dari 19 jenis antiseptik.

FDA menyebut label sabun ini tidak mampu membuktikan mereka lebih baik dibanding sabun biasa dan air. "Konsumen akan berpikir mencuci dengan sabun antibakteri atau antiseptik lebih efektif mencegah penyebaran kuman, namun kami tidak memiliki bukti ilmiah bahwa mereka lebih baik dibanding sabun biasa dan air," kata Direktur Pusat Penelitian dan Kajian Obat FDA Janet Woodcock dalam pernyataan resminya di laman resmi FDA, Jumat (2/9).

"Faktanya, beberapa data menunjukkan bahwa komposisi antibakteri lebih mungkin berdampak buruk dalam jangka waktu panjang," imbuh Woodcock.

Pelarangan penjualan sabun yang mengandung senyawa kimia antibakteri akan berlaku per 6 September 2017 atau tahun depan. Tindakan ini sudah mulai diajukan sejak 2013 ketika beberapa studi menunjukkan bahwa komposisi antiseptik pada berbagai sabun tidak terbukti membawa manfaat pada kesehatan tubuh.

Sabun antiseptik itu mengandung bahan triclosan (TCS) pada sabun cair dan triclocarban (TCC) pada sabun batang.

Atas temuan beberapa hasil studi tersebut, FDA sudah meminta produsen sabun antiseptik atau peralatan mandi yang menggunakan senyawa tersebut untuk membuktikan manfaat sabun kepada lembaga penanggung jawab obat. Namun, disebutkan FDA, produsen pembersih tangan dan tubuh tidak dapat membuktikan data yang diperlukan atas keamanan dan efektivitas dari 19 jenis bahan aktif.

Namun FDA masih menangguhkan keputusan atas tiga bahan kimia atas permintaan industri karena masih dalam taraf pengujian. Ketiga bahan tersebut adalah benzalkonium chloride, benzethonium chloride, dan chloroxylenol (PCMX). Namun penangguhan ini hanya berlaku selama satu tahun.

Menurut hasil keputusan federal, ke-19 jenis senyawa yang dimaksud adalah Cloflucarban, Fluorosalan, Hexachlorophene, Hexylresorcinol, Ammonium ether sulfate, Polyoxyethylene sorbitan monolaurate,  Phosphate ester (alkylaryloxy polyethylene glycol), Methylbenzethonium chloride, Nonylphenoxypoly (ethyleneoxy) ethanoliodine, Phenol, Poloxamer,  Povidone-iodine, Amyltricresols sekunder, Sodium oxychlorosene, Tribromsalan, Triclocarban, Triclosan, Triple Dye, dan Undecoylium chloride.

Keputusan FDA ditanggapi gembira oleh para ilmuwan, salah satunya dari Arizona State University. Universitas ini adalah salah satu lembaga yang menemukan bahwa senyawa antiseptik pada berbagai sabun tersebut memiliki pencemaran lingkungan dan kesehatan dalam jangka panjang.

"Kebanyakan orang tidak menggunakan produk perawatan diri dengan baik dan tidak sadar akan bahaya yang mengintai di balik itu semua, yang berlangsung dekade atau lebih lama lagi," kata Rolf Halden, profesor teknik lingkungan Arizona State University, seperti dilansir dari laman resmi kampus.

Tim Halden adalah yang pertama menemukan endapan limbah TCC dan TCS di New York dan diduga berasal dari dekade 1950-an. Struktur senyawa kimia ini disinyalir sulit diurai oleh alam.

Lebih jauh lagi, Halden dan kawan-kawan menemukan senyawa kimia antiseptik tersebut pada tubuh bayi yang baru lahir.

Penemuan ini menuntun pada fakta bahwa senyawa tersebut memiliki kemampuan menghambat perkembangan seksual dan saraf. Selain itu, terjadi penurunan usia kehamilan pada persalinan ibu yang terpapar TCC.

Hasil studi Laura Geer dari State University of New York menunjukkan bahwa ada hubungan antara antiseptik pada kosmetik seperti butil paraben dengan semakin memendeknya panjang bayi yang baru lahir.

Meski Geer masih belum menemukan konsekuensi lebih panjang, namun bila terbukti dalam penelitian lebih luas maka bisa jadi paparan senyawa antiseptik ini menyebabkan pergeseran ukuran bayi yang baru lahir secara masif namun perlahan.

Beberapa perusahaan telah mengonfirmasi membuang senyawa seperti TCC dan TCS dalam produk mereka.

Kepedulian dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan pun dilakukan oleh Inggris. Jika Amerika menarik sabun antiseptik yang dianggap 'tak berguna', maka Inggris menarik kosmetik.

The Guardian memalporkan, bahan microbeads yang merupakan partikel plastik yang mikroskopis dan biasa digunakan pada facial scrub dan kosmetika.

Ahli lingkungan mengatakan bahwa polusi dari microbeads ini mengganggu pertumbuhan ikan di laut dan bertahan di otot mereka dan memungkinkan dikonsumsi oleh makhluk lebih besar seperti manusia.

Selain menghindari microbeads, konsumen juga harus menghindari senyawa lain yang jadi polutan seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), polimetil metakrilat (PMMA), polytetrafluoroethylene (PTFE) dan nilon.***

 

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check