Ini Lho Dampak Asap Rokok bagi Kehamilan, Cek Ya

Ini Lho Dampak Asap Rokok bagi Kehamilan, Cek Ya

16 Sep 2019

Dokterdigital.com - Jika mempertaruhkan kesehatan pribadi tidak cukup kuat untuk membuat seorang ibu hamil berhenti merokok, maka kesehatan bayi harusnya menjadi pertimbangan penting. Merokok selama kehamilan mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi sebelum, selama, dan setelah si bayi lahir lho.

Nikotin (zat adiktif dalam rokok), karbon monoksida, dan banyak racun lain yang  diisap dari rokok dilakukan melalui aliran darah dan langsung ke bayi di dalam rahim.

Merokok saat hamil memiliki sejumlah dampak negatif, yaitu:

1. Menurunkan jumlah oksigen yang tersedia bagi ibu dan bayi yang sedang tumbuh.

2. Meningkatkan detak jantung bayi di dalam rahim.

3. Meningkatkan kemungkinan keguguran dan kelahiran mati.

4. Meningkatkan risiko bayi lahir prematur dan atau lahir dengan berat badan lahir rendah.

5. Memperbesar peluang risiko bayi terkena masalah pernapasan (paru-paru).

6. Meningkatkan risiko cacat lahir.

7. Menambah kemungkinan risiko Sindroma Kematian Bayi Mendadak (SIDS).

Nah, semakin banyak rokok yang diisap per hari, makin besar kemungkinan bayi mengembangkan masalah kesehatan lainnya. Tidak ada tingkat "aman" dari tindakan merokok saat hamil.

Lantas, bagaimana asap rokok mempengaruhi kehamilan? Secondhand smoke (disebut juga perokok pasif atau asap tembakau lingkungan) adalah kombinasi dari asap sebatang rokok yang terbakar dan asap diembuskan oleh perokok.

Asap yang membakar dari ujung rokok atau cerutu sebenarnya mengandung lebih banyak zat berbahaya (tar, karbon monoksida, nikotin, dan lain-lain) dari asap yang diirup oleh perokok.

Jika perempuan secara teratur terpapar asap rokok saat hamil, ia akan memiliki kesempatan lebih besar untuk melahirkan prematur, keguguran, lahir mati, kehamilan tuba, bayi berat lahir rendah, dan komplikasi lain kehamilan.

Bayi dan anak-anak terpapar asap rokok juga dapat mengembangkan asma, alergi, infeksi paru-paru dan telinga, dan berada pada risiko tinggi untuk Sindroma Kematian Bayi Mendadak (SIDS), demikian dilaporkan laman WebMD.com.***

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check