Hati-hati, Fluktuasi Kolesterol Bikin Otak Lemot

Hati-hati, Fluktuasi Kolesterol Bikin Otak Lemot

20 Nov 2019

Dokterdigital.com - Lipoprotein densitas rendah alias low-density lipoproteins (LDL) , juga dikenal sebagai kolesterol jahat, telah terlibat dalam sejumlah dampak negatif bagi kesehatan.

Sebuah studi baru-baru menyelidiki peran fluktuasi kolesterol dalam penurunan kognitif. Hasil penelitian menunjukkan, kolesterol yang berfluktuasi dapat berdampak negatif terhadap kinerja kognitif pada orang dewasa cenderung tua.

Meskipun memikul reputasi buruk, namun kolesterol penting untuk fungsi normal tubuh manusia. Membran sel kita terdiri dari kolesterol sekitar 30 persen. Kolesterol  ini memainkan peran penting dalam membangun, memelihara, dan menjaga fungsi membran.

Kolesterol tidak dapat larut dalam darah. Lipoprotein itu diedarkan ke area tubuh yang memerlukannya.

Ada dua jenis lipoprotein, yaitu low-density lipoprotein (LDL) dan high-density lipoprotein (HDL).

Kolesterol LDL dianggap "buruk" karena membantu membangun plak yang tebal dan deras, yang dapat menyumbat arteri dan membuatnya menjadi kaku. Hal ini menyebabkan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.

Sedangkan kolesterol HDL dianggap "baik" karena membantu mengangkut kolesterol LDL ke hati di mana ia dipecah.

Hubungan LDL dan Otak

Penelitian sebelumnya terkait hubungan antara kadar kolesterol dan fungsi kognitif (berpikir) fungsi pada orang dewasa tua telah meyakinkan. Hubungan ini tampaknya menjadi kompleks.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Circulation, menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda untuk menyelidiki interaksi tersebut. Ketimbang mengamati tingkat keseluruhan kolesterol LDL, tim lebih melihat efek dari fluktuasi kolesterol pada kinerja kognitif.

Kadar kolesterol tidak statis pada setiap individu, bisa naik dan turun, tergantung pada faktor-faktor seperti olahraga, diet, obat-obatan, dan gangguan homeostasis karena usia atau penyakit. Kadar kolesterol masing-masing individu surut dan mengalir ke derajat yang berbeda. Sejumlah orang memiliki kadar kolesterol statis, yang lain tidak menentu.

Sebuah tim peneliti dari Leiden University Medical Center di Leiden, Belanda, melakukan penelitian untuk melihat apakah fluktuasi kolesterol LDL memiliki dampak yang terukur pada otak.

Penelitian ini melibatkan 4.428 peserta, berusia 70-82, yang diambil dari PROspective Study of Pravastatin in the Elderly at Risk (PROSPER). Responden berasal dari Skotlandia, Belanda, dan Irlandia.

Semua responden yang tergabung dalam PROSPER ini berisiko tinggi mengembangkan penyakit pembuluh darah atau sudah memiliki diagnosis penyakit pembuluh darah.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Roelof Smit, menilai variabilitas kolesterol LDL individu sebelum menempatkan mereka melalui rakit tes kognitif.

Fluktuasi kolesterol memperlambat proses berpikir

Setelah hasilnya dianalisis, tim mengamati bahwa peserta dengan variabilitas kolesterol tertinggi membutuhkan 2,7 detik lebih lama untuk menyelesaikan tes kata berwarna bila dibandingkan dengan individu dengan fluktuasi kolesterol terendah.

Meskipun efek ini ukurannya mungkin tampak kecil, seperti dikatakan Dr. Smit, namun ini signifikan pada tingkat populasi.

Individu dengan variabilitas kolesterol LDL tertinggi juga menunjukkan aliran darah otak yang lebih rendah dan tingkat yang lebih tinggi dalam hal white matter hyperintensity (WMH). WMH adalah daerah yang menunjukkan tanda  ‘terang’ pada MRI scan. Tanda ini terkait dengan proses penuaan normal dan dianggap sebagai penanda penurunan kognitif.

"Temuan kami menunjukkan, untuk pertama kalinya, bahwa bukan hanya rata-rata tingkat kolesterol LDL yang berhubungan dengan kesehatan otak, tetapi juga berapa banyak kadar variasi LDL ini,” kata Dr. Smit.

Meskipun hasil riset ini berasal dari populasi Eropa, mereka, namun kemungkinan besar juga berlaku untuk populasi Amerika juga. Namun, karena sampel penelitian yang digunakan orang dewasa yang lebih tua, temuan tidak dapat diekstrapolasi untuk penduduk pada umumnya.

Penelitian ini adalah langkah pertama untuk memahami hubungan antara kolesterol LDL, kinerja kognitif, dan penuaan. "Studi kami hanya langkah menarik pertama. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji apakah temuan ini benar-benar dapat mempengaruhi praktik klinis,” tandas Dr. Smit seperti dilansir Medical News Today.

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check