Pangan Fungsional Bakal Jadi Tren Gaya Hidup

Pangan Fungsional Bakal Jadi Tren Gaya Hidup

30 Mar 2016

Dokterdigital.com -  Pernah dengar istilah pangan fungsional dan nutrasetikal? Kedua istilah ini belakangan mengemuka dan mulai banyak peminatnya.

Makan tak lagi sebatas kenyang. Namun sebisa mungkin makanan yang masuk ke dalam tubuh juga memiliki manfaat ekstra, menjaga kesehatan, mencegah penyakit atau bahkan kalau bisa menghambat penuaan.

Pangan fungsional dan nutrasetikal ini berkembang pesat di Jepang. Pemerintah Jepang menggalakkan konsumsi pangan fungsional di masyarakat karena bertujuan menjaga kaum usia lanjut tetap sehat saat usia tua. Seperti kita ketahui, saat ini usia rata-rata harapan hidup warga Jepang termasuk yang tertinggi di dunia.

Ketua Perhimpunan Pegiat Pangan Fungsional dan Nutrasetikal Indonesia C Hanny Wijaya mengungkapkan, bukan hanya di Jepang, pola makan fungsional ini sejatinya telah lama berkembang di Indonesia. Hanya saja kemungkinan masyarakat tidak menyadarinya dan melakukannya secara turun temurun

Contoh nyata yang masuk kategori pangan fungsional dan nutrasetikal adalah konsumsi lalap yang lazim di kalangan masyarakat Sunda. “Kulit orang Sunda relatif segar dan bercahaya antara lain karena kegemaran mereka makan lalapan,” kata Hanny dalam temu media menandai akan digelarnya Convention on Pharmaceutical Ingredients South East Asia (CPhI SEA) 2016, Selasa (29/3).

Makanan fungsional lain asli Indonesia yang kini berkibar di dunia internasional adalah tempe. Lauk protein nabati berbahan dasar kedelai ini mengandung isoflavon yang menekan risiko sakit jantung, menguatkan tulang, dan mencegah kanker.

“Saat makan sate orang kerap membarenginya dengan mengunyah bawang merah. Ini ada tujuannya, yaitu menurunkan kadar kolesterol berat kandungan sulfur pada bawang,” kata Hanny.

Pola hidup warga modern yang ingin praktis membuat bahan pangan yang bisa memberi manfaat obat atau nutrasetikal itu dikembangkan dalam suplemen pangan. Besarnya pasar membuat banyak industri pangan dan farmasi mulai memproduksi pangan fungsional dan nutrasetikal ini. Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S Lukman, tren ini diprediksi akan menguat seiring membaiknya perekonomian masyarakat.

Dikatakan Adhi Lukman, saat ini sekitar 10 persen dari jumlah total perusahaan pangan yang menekuni sektor itu dengan suplemen pangan terbanyak diminati antara lain serat, probiotik-prebiotik, antioksidan, dan vitamin B kompleks.

Sayangnya, sebagai tren baru yang diprediksi akan berkembang dengan cepat, di Indonesia belum ada aturan tegas di dunia yang mengatur pangan fungsional dan nutrisetikal yang membedakannya dengan zat obat.

Sekretaris Eksekutif Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST Center) Puspo Edi Giriwono mengatakan, ketidakjelasan itu membuat batasan pangan dan obat jadi relatif. "Keamanan pangan fungsional dan nutrisetikal perlu kajian lebih dalam," katanya.

Puspo mencontohkan, minuman botol yang mengandung dosis vitamin C 1.000 miligram (mg) dikelompokkan dalam pangan fungsional, sedangkan tablet vitamin C 500 mg termasuk obat karena berbentuk tablet. Kelebihan vitamin C dalam tubuh dikeluarkan melalui urin dan jarang berakibat fatal.

Namun, tak semua kelebihan zat nutrasetikal atau pangan fungsional aman bagi tubuh, kata Puspo. Sejumlah zat nutrasetikal berlebih di tubuh, khususnya yang bersenyawa kompleks, membebani kerja tubuh.
Kelebihan vitamin A membebani kerja hati, sementara kelebihan vitamin K memicu penggumpalan darah.

Pengertian Pangan Fungsional

Pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, diluar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya.
Menurut American Dietetic Association (ADA), yang termasuk pangan fungsional tidak hanya pangan alamiah tetapi juga pangan yang telah difortifikasi atau diperkaya dan memberikan efek potensial yang bermanfaat untuk kesehatan jika dikonsumsi sebagai bagian dari menu pangan yang bervariasi secara teratur pada dosis yang efektif.

Untuk dapat disebut sebagai pangan fungsional, paling tidak harus ada beberapa hal yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Harus berupa produk pangan, bukan kapsul, tablet atau bubuk dan berasal dari bahan yang terdapat secara alami.
2. Dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu sehari-hari, dan
3. Pangan fungsional harus mempunyai fungsi tertentu pada waktu dicerna, memberikan peran dalam proses tubuh tertentu, seperti memperkuat mekanisme pertahanan tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu tubuh untuk memulihkan kondisi tubuh setelah terserang penyakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan mental, dan memperlambat proses penuaan.

Aneka Ragam Pangan Fungsional

Bentuk fisik pangan fungsional yang mengandung bahan-bahan aktif (bioaktif) di atas terdiri atas:
1. Produk susu, misalnya susu fermentasi dan lactobacillus, yogurt, juga kefir.
2. Minuman, yaitu minuman yang mengandung suplemen serat makanan, mineral, vitamin, minuman olahraga kaya protein yang mengandung kolagen dan lain sebagainya.
3. Makanan, misalnya roti yang mengandung vitamin A tinggi, serat makanan tinggi; biskuit yang diperkaya serat makanan, makanan dari bahan yang dikenal memiliki kandungan senyawa aktif berkhasiat seperti isoflavon dalam kedelai dan lain-lain.***

 

 

2021 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check