WHO: Penyebaran Virus Zika Mengkhawatirkan

WHO: Penyebaran Virus Zika Mengkhawatirkan

29 Jan 2016

Dokterdigital.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mensinyalir telah terjadi ‘ledakan penyebaran’ virus Zika. Terkait dengan hal ini, lembaga dunia itu telah membentuk satuan tugas khusus untuk menangani virus Zika.

Virus Zika disebut-sebut terkait dengan ribuan bayi di Brasil yang lahir dengan ukuran otak lebih kecil dari bayi-bayi normal.

Dirjen WHO, Dr Margaret Chan, mengatakan ancaman virus Zika 'telah berkembang dari tingkat menengah ke tingkat yang mengkha mensinyariwatirkan' dan dampak dari virus ini 'sangat serius'.

Brasil pertama kali melaporkan kasus Zika pada Mei 2015.

Dalam sebagian besar kasus tidak ada gejala dan sulit untuk melakukan uji, namun WHO mengatakan diperkirakan 1,5 juta orang di negara tersebut terkena virus Zika.

Virus Zika menyebar melalui nyamuk dan hingga Januari 2016 diketahui virus ini telah menyebar ke 20 negara di kawasan Amerika Selatan.

Pada kurun waktu yang bersamaan terjadi peningkatan tajam bayi-bayi yang lahir dengan ukuran kepala yang jauh lebih kecil, yang dikenal sebagai microcephaly.

Dr Chan mengatakan kaitan antara Zika dan kelainan ini belum dikukuhkan tapi kiat dugaan virus Zika menjadi biang penyebab microcephaly. Terkait dengan ini, muncul rekomendasi bagi wanita Amerika Latin untuk sementara menunda kehamilannya.

Darurat Global

Anggota satgas khusus akan menggelar pertemuan pada Senin depan (1/2) dan akan diputuskan apakah Zika sudah masuk kategori darurat global.

WHO terakhir kali memberlakukan status darurat global ketika terjadi wabah Ebola di Afrika Barat yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Dalam kesempatan terpisah, bberapa ilmuwan Amerika Serikat mendesak WHO mengambil langkah cepat untuk menangani virus Zika, yang mereka sebut berpotensi menyebabkan ledakan pandemik.

Dalam Journal of the American Medical Association, Daniel R Lucey dan Lawrence O Gostin menyeru kepada WHO agar belajar dari wabah Ebola dan membentuk komite darurat berisi pakar-pakar penyakit.

“Pembentukan komite itu akan mempercepat perhatian dunia, pendanaan, dan penelitian,” tulis Lucey dan Gostin seperti dilansir BBC.

Kedua ilmuwan yang merupakan pakar penyakit menular itu mengklaim  bahwa vaksin virus Zina akan siap diuji dalam dua tahun, namun kemungkinan dibutuhkan 10 tahun lagi sebelum bisa beredar di masyarakat.

Presiden Brasil, Dilma Rousseff, telah menyeru kepada para pemimpin negara Amerika Latin untuk bersatu dalam memerangi virus tersebut.

Penelitian virus Zika, yang disebarkan nyamuk Aedes aegypti, kini dilakukan sekelompok ilmuwan University of Texas Medical Branch. Mereka tengah menganalisanya di beberapa laboratorium Kota Galveston, Texas, dengan penjagaan ketat polisi dan FBI.

“Jelas ini risiko yang sangat signifikan. Jika infeksi terjadi pada janin dan penyusutan otak berkembang, kami tidak punya kemampuan untuk mengubah dampak penyakit tersebut. Kadang kala penyakit tersebut menyababkan bayi yang baru lahir mengalami gangguan mental seumur hidup,” kata Professor Scott Weaver, direktur Institute for Human Infections and Immunity kepada BBC, di Galveston.

Virus Zika ditemukan pada monyet-monyet di Hutan Zika, Uganda, pada 1947. Kasus pertama yang dialami manusia terjadi di Nigeria pada 1954, namun tidak menimbukan ancaman besar terhadap manusia dan diabaikan oleh komunitas ilmuwan.

Akan tetapi, wabah yang terjadi di Pulau Yap, di Kepulauan Mikronesia, Pasifik, pada 2007, menarik perhatian para peneliti.

Menurut Profesor Weaver, virus tersebut ‘meledak’ dan menjangkiti sekitar dua juta orang di Karibia dan Amerika Latin.

Gejala-gejala ketika virus Zika menyerang serupa dengan demam berdarah, termasuk flu, radang mata, sakit pada persendian, dan titik-titik merah pada kulit.

Bahkan dalam beberapa kasus, virus itu bisa menimbulkan komplikasi, seperti sindrom Guillain-Barre, yang menyebabkan kelumpuhan saraf otak.***

 

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check