Kedelai Tingkatkan Keberhasilan Program Hamil

Kedelai Tingkatkan Keberhasilan Program Hamil

24 Apr 2019

Dokterdigital.com - Bagi pasangan yang tengah berusaha mendapatkan momongan, cobalah perbanyak konsumsi kedelai, terutama buat calon ibu.

Pasalnya, wanita yang menerima pengobatan infertilitas mungkin akan memetik manfaat dari mengonsumsi kedelai, karena bisa melindungi mereka dari efek bisphenol A, bahan kimia yang digunakan dalam botol air plastik dan wadah makanan, demikian menurut  temuan dari penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism.

Perawatan IVF tampaknya lebih berhasil jika wanita mengkonsumsi produk kedelai untuk melindungi mereka dari BPA.

Orang bisa terpapar bisphenol kimia A (BPA) ketika mereka mengonsumsi makanan atau minuman dari botol air, kaleng atau wadah plastik. BPA ini dapat meniru estrogen, salah satu dari dua hormon seks utama pada wanita.

Angka dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 96 persen orang Amerika memiliki BPA dalam tubuh mereka.

Studi telah memperingatkan bahwa BPA menyebabkan masalah kesehatan, dan beberapa bahkan menegaskan bahan kimia ini berkontribusi terhadap gangguan reproduksi. Hal ini juga dapat menghambat pengobatan kesuburan.

Nah, makanan berbasis kedelai telah direkomendasikan dalam memerangi kolesterol, kanker dan osteoporosis. Bahan makanan kedelai ini juga dikatakan dapat  mengurangi efek hot flashes dan membantu  menurunkan berat badan.

Kacang kedelai mengandung konsentrasi tinggi isoflavon, sejenis estrogen buatan tanaman yang dikenal sebagai phytoestrogen (fitoestrogen).

Sementara beberapa manfaat kedelai telah dipertanyakan, studi tikus telah menunjukkan bahwa diet kaya kedelai dapat melindungi terhadap masalah kesehatan reproduksi yang berhubungan dengan paparan BPA.

Konsumsi Kedelai Rutin Dihubungkan dengan Kesuksesan Bayi Tabung

Dr Jorge E. Chavarro  dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Brigham and Women’s Hospital, and Harvard Medical School di Boston, MA - dan rekannya, mengamati data yang menghubungkan paparan BPA, diet dan tingkat keberhasilan bayi tabung alias fertilisasi in vitro (IVF).

Peserta terdiri dari 239 wanita, berusia 18-45 tahun, yang menerima satu atau lebih perawatan IVF dalam periode 2007-2012 di Massachusetts General Hospital Fertility Center.

Para wanita ini ambil bagian dalam Environment and Reproductive Health (EARTH) Study, sebuah studi kohort yang tengah berlangsung yang menyelidiki bagaimana faktor lingkungan dan nutrisi mempengaruhi kesuburan.

Paparan BPA diukur melalui sampel urin. Sebuah kuesioner gaya hidup juga diberikan untuk menilai frekuensi konsumsi makanan berbasis kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 176 perempuan mengonsumsi produk kedelai.

Dibandingkan dengan wanita yang memiliki BPA yang rendah dalam urin mereka, orang-orang dengan tingkat tinggi BPA dan yang tidak makan makanan kedelai memiliki tingkat kesuksesan implantasi (penempelan) embrio lebih rendah dan lebih sedikit kehamilan yang berkembang ke titik di mana janin dapat dideteksi dengan USG.  Mereka juga memiliki kelahiran hidup lebih sedikit.

Sedangkan pada wanita yang mengonsumsi kedelai sebagai bagian dari diet biasa mereka, konsentrasi BPA tidak berdampak pada hasil IVF.

Penulis senior Dr Russ Hauser mengatakan, meskipun perempuan yang mencoba untuk hamil dianjurkan untuk mengurangi paparan terhadap BPA, temuan kami menunjukkan bahwa diet dapat memodifikasi beberapa risiko dari paparan BPA - bahan kimia yang hampir tidak mungkin untuk sepenuhnya dihindari karena digunakan secara luas.

Para peneliti berharap bahwa penelitian akan menjelaskan bagaimana tindakan protektif kedelai bekerja dan untuk mengetahui bagaimana perubahan pola makan dan gaya hidup lainnya dapat melindungi baik terhadap BPA dan bahan kimia lainnya, demikian dilaporkan Medical News Today.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check