Kena Hipertensi, Gagal Ginjal Menanti

Kena Hipertensi, Gagal Ginjal Menanti

23 Oct 2018

Dokterdigital.com - Tekanan darah tinggi, yang sering dikenal dengan istilah hipertensi, adalah salah satu faktor di balik risiko gagal ginjal. Disebut tekanan darah tinggi apabila angka tekanan darah mencapai 140/90 mmHg.

Menurut the 7th Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Presure (2003), ketika angka tekanan darah mencapai 120-139/80-90 mmHg maka sudah dapat dikatakan sebagai pre-hipertensi.

Sementara menurut ESH/ESC Guidelines ketika tekanan darah mencapai 140-159/90-99 mmHg maka sudah dapat dikatakan sebagai hipertensi tingkat 1.

Data nasional berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2013, terjadi penurunan angka kejadian hipertensi dari 37,1% pada tahun 2007 menjadi 25,8% pada 2013. Penurunan angka tersebut bisa diasumsikan karena berbagai hal, yaitu dari pengaruh alat pengukur tekanan darah yang berbeda, hingga kemungkinan bahwa masyarakat sudah meningkat kesadarannya untuk mulai datang berobat ke fasilitas kesehatan.

Sementara itu, berdasarkan wawancara yang diinisiasi dengan pertanyaan mengenai apakah pernah didiagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan dan apakah pernah mengonsumsi obat hipertensi, terlihat peningkatan prevalensi hipertensi dari 7,6% di tahun 2007 menjadi 9,5% di 2013.

Hipertensi sejauh merupakan penyebab kematian kedua,di mana sekitar 76% kasus hipertensi belum dapat dideteksi.

Tantangan Global

Hipertensi merupakan tantangan penting di bidang kesehatan masyarakat global. Menurut Kearney PM, dkk dalam Lancet (2005) pada tahun 2000, seperempat dari populasi global memiliki hipertensi dan diprediksi meningkat hingga 60% pada tahun 2025.

Menurut Chobanian, dkk dalam JAMA (2003), komplikasi terburuk dari hipertensi adalah kerusakan dari organ-organ tertentu, yang berkaitan dengan risiko penyakit-penyakit seperti stroke hemoragik, retinopati (kerusakan retina mata), penyakit pembuluh darah, penyakit-penyakit kardiovaskular, gagal jantung, gagal ginjal, dementia (kepikunan), hingga disfungsi seksual.

Pada umumnya risiko peningkatan angka sistolik dan diastolik pada tekanan darah meningkat seiring bertambahnya usia. Menurut Lewington, dkk (2002), risiko kematian karena penyakit kardiovaskular meningkat dua kali lipat dalam setiap penambahan 20/10 mmHg pada tekanan sistolik/diastolik. Sementara perbedaan tekanan darah dari 10mmHg diasosiasikan dengan sampai 40% risiko kardiovaskular.

Data realisasi pelayanan katastrofik menyatakan bahwa penyakit gagal ginjal merupakan penyakit pertama pada penanganan rawat jalan dengan total jumlah kasus mencapai 1.920.000 jiwa dan menelan biaya hingga Rp2 miliar.

Penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai penyakit ginjal dengan kerusakan ginjal lebih dari tiga bulan, ditandai dengan kelainan struktur/fungsi ginjal dengan dan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus dengan manifestasi kelainana patologi.

Selain itu juga didapatkan tanda-tanda kerusakan ginjal pada pemeriksaan darah/urine atau pemeriksaan radiologi. Laju filtrasi glomerulus (LFG) dibawah angka 90 mL/min/1.73m2 sendiri masih dikatakan kerusakan ginjal dengan LFG normal atau meningkat, sedangkan untuk level terburuk yaitu gagal ginja sendiri LFG mencapai kurang dari angka 15 untuk dialisis

Manajemen dalam penanganan penyakit ginjal kronis dimulai dari tahapan paling dasar yaitu ketika masih sehat/normal (dengan penapisan untuk risiko Gagal Ginjal Kronis/CKD), ketika risiko meningkat maka penapisan ditujukan untuk CKD itu sendiri.

Ketika mulai ada kerusakan, dilakukan diagnosis, maka dilakukan penanganan kondisi comorbid yang bertujuan untuk memperlambat penurunan fungsi ginjal. Ketika fungsi ginjal  mulai menurun maka harus dilakukan prediksi level penurunan fungsi ginjal, menangani komplikasi dan mempersiapkan penggantian fungsi ginjal.

Gagal ginjal dapat ditangani dengan penggantian fungsi ginjal oleh dialisis dan transplantasi.

Penanganan Hipertensi

Tujuan dan target penurunan tekanan darah ke angka normal 140/90 (130/80) mmHg tidak hanya bertujuan sekadar menjadikan tekanan darah turun, tapi juga untuk mencegah komplikasi jantung dan pembuluh darah.

Terapi hipertensi dapat ditempuh dari sisi non farmakologik dan farmakologik. Non farmakologik mencakup perubahan gaya hidup, misalnya: pengurangan berat badan (berdampak positif pada penurunan 5-20 mmHg per 10 kg berat badan), mengadopsi DASH diet (diet untuk hipertensi yang bertujuan menurunkan 8-14 mmHg), mengurangi asupan garam (menurunkan 2-8 mmHg), menambah aktivitas fisik (menurunkan 4-9 mmHg) serta konsumsi alkohol (menurunkan 2-4 mmHg).

Konsumsi sodium atau natrium yang dianjurkan adalah 2.000 mg yang setara dengan 5 gram garam atau 1 sendok teh garam dapur. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kebanyakan sodium tersembunyi dari makanan olahan seperti fast food dan makanan instan seperti pizza, roti, saus botol, dan lain-lain. Sebanyak 80% dari asupan garam biasanya didapatkan dari makanan olahan, sedangkan hanya 10 persennya yang didapat dari pada proses pemasakan atau konsumsi garam secara langsung.

Pola makan yang dianjurkan untuk membantu menurunkan tekanan darah adalah konsumsi buah dan sayur segar, konsumsi produk makanan rendah lemak, konsumsi makanan tinggi serat serta mengurangi konsumsi lemak jenuh dan makan-makanan yang tinggi kolesterol atau sodium.

Sementara itu berdasarkan 2015 Canadian Hypertension Education Program Recommendations, gaya hidup yang dianjurkan dapat membantu mengatasi tekanan darah tinggi di antaranya:

1. Aktivitas fisik atau olahraga.

Dilakukan dengan frekuensi 4-7 hari per minggu dengan waktu sekitar 30-60 menit dalam sekali olahraga. Tipe olahraga yang disarankan adalah olahraga yang berhubungan dengan kardiorespiratori seperti berjalan, jogging, bersepeda, dan berenang.

2. Penurunan berat badan.

Untuk Indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25, disarankan untuk menurunkan berat badan hingga mencapai IMT ideal yaitu 18.5-24.9 kg/m2. Penurunan berat badan sendiri juga guna menurunkan lingkar pinggul dimana lingkar pinggang ideal untuk pria adalah < 102 cm dan pada wanita < 88 cm.

3. Kurangi konsumsi alkohol.

4. Mengelola stres.

Salah satu faktor penting dalam penanganan hipertensi adalah pengendalian pikiran atau stres. Perubahan modifikasi gaya hidup juga akan berjalan dengan lebih efektif apabila dijalani dengan santai, rileks dan tidak penuh tekanan.

Upaya preventif atau pencegahan juga diperlukan dalam penurunan angka kejadian hipertensi. Edukasi masyarakat sejak dini pada usia sekolah, informasi mengenai risiko hipertensi, pentingnya mengontrol tekanan darah, mengonsumsi obat teratur dan mengurangi konsumsi garam adalah beberapa hal yang dapat disampaikan pada masyarakat agar dapat terhindar dari hipertensi dan gangguan kesehatan lainnya yang ditimbulkan oleh hipertensi.

Penulis: dr Pranawa SpPD-Konsultan Ginjal Hipertensi, Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK) PB IDI periode 2012-2015; Staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNAIR/RSUD Soetomo.

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check