Usia Harapan Hidup Naik, Namun Kurang Berkuallitas

Usia Harapan Hidup Naik, Namun Kurang Berkuallitas

28 Aug 2015

Dokterdigital.com - Orang Indonesia hidup lebih lama, namun harapan hidup sehatnya meningkat lambat, dan perpaduan kompleks antara penyakit fatal dan nonfatal menyebabkan sejumlah besar masalah kesehatan, demikian menurut analisis baru dari 306 penyakit dan cedera di 188 negara.

Sementara itu, status kesehatan masyarakat dunia meningkat secara signifikan, berkat penurunan angka kematian dan penyakit karena HIV/AIDS dan malaria pada dekade terakhir. Ini juga tak lepas dari kemajuan yang dilakukan untuk mengatasi gangguan penyakit menular, gangguan pada ibu, neonatal, dan gangguan nutrisi.

Harapan hidup global ketika lahir meningkat sampai 6,2 tahun, baik laki-laki maupun perempuan (dari 65,3 pada tahun 1990 menjadi 71,5 pada tahun 2013), sedangkan harapan hidup sehat ketika lahir meningkat sampai 5,4 tahun (dari 56,9 pada 1990 menjadi 62,3 pada 2013), demikian menurut riset yang dipublikasikan di jurnal kesehatan The Lancet (27/8), berdasar studi yang dilakukan oleh himpunan peneliti internasional yang mengerjakan studi Beban Penyakit Global (GBD) yang dipimpin oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Universitas Washington. 

Harapan hidup sehat tidak hanya memperhitungkan angka kematian namun juga dampak dari kondisi nonfatal dan jumlah tahun yang dijalani dengan disabilitas serta tahun-tahun yang hilang akibat kematian prematur.

Sayangnya, menurut penelitian, peningkatan harapan hidup sehat tidak begitu dramatis jika dibandingkan dengan pertumbuhan harapan hidup, dan sebagai hasilnya, orang-orang hidup lebih lama dengan penyakit dan disabilitas. Hal ini benar-benar terjadi di Indonesia.

Antara 1990 dan 2013, harapan hidup laki-laki meningkat sampai 5,2 tahun, dan 5,9 tahun untuk perempuan. Namun, harapan hidup sehat hanya meningkat sedikit, yaitu 5,1 tahun untuk laki-laki dan 5,5 tahun untuk perempuan. Sedangkan harapan hidup perempuan di Indonesia melampaui harapan hidup laki-laki, yaitu 72,7 tahun dibandingkan dengan 68,4 tahun. 

Di sebagian besar negara, harapan hidup sehat untuk laki-laki dan perempuan antara tahun 1990 dan 2013 mengalami perubahan yang signifikan dan positif, namun di puluhan negara, termasuk Botswana, Belize, Suriah, harapan hidup sehat pada tahun 2013 tidaklah signifikan lebih tinggi dari tahun 1990.

"Orang Indonesia hidup lebih lama, dan inilah yang menggembirakan," kata Dr. Soewarta Kosen dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang juga bertindak sebagai co-author dari studi ini.

"Namun, kita tidak bisa berhenti di situ saja; kita juga ingin hidup lebih sehat. Dengan mengidentifikasi penyebab utama masalah kesehatan, kita akan mampu mengatasi berbagai penyakit ini dengan lebih efektif dan meningkatkan kesehatan orang-orang di Indonesia selain untuk memperpanjang hidup,” imbuh Soewarta dalam keterangan tulisnya.

10 Penyebab Utama Masalah Kesehatan

Selama ini, para peneliti studi tersebut menggunakan tahun hidup tuna upaya (DALY) untuk membandingkan kesehatan pada populasi dan kondisi kesehatan yang berbeda. Satu DALY setara dengan hilangnya 1 tahun hidup sehat dan diukur dengan jumlah tahun hidup yang hilang dan tahun hidup dengan disabilitas.

Di Indonesia, penyebab utama masalah kesehatan, yang diukur dengan DALY, pada tahun 2013 adalah penyakit serebrovaskular, penyakit jantung iskemik (IHD), tuberkulosis, infeksi saluran pernapasan bawah, diabetes, kecelakaan lalu lintas, ensefalopati neonatal, sakit punggung bagian bawah dan leher, penyakit diare, dan komplikasi kelahiran termin awal neonatal.

Tuberkulosis, diabetes, ensefalopati neonatal tidak termasuk dalam penyebab utama masalah kesehatan secara global. 

Penyebab masalah kesehatan di Indonesia juga dibedakan menurut jenis kelamin. Untuk laki-laki Indonesia, lima penyebab teratas DALY pada tahun 2013 adalah penyakit serebrovaskular, IHD, tuberkulosis, kecelakaan lalu lintas, dan infeksi saluran pernapasan bawah. Untuk perempuan, lima penyebab teratasnya adalah penyakit serebrovaskular, IHD, diabetes, infeksi saluran pernapasan bawah, dan sakit punggung bagian bawah dan leher.

Penyebab utama masalah kesehatan yang meningkat drastis antara tahun 1990 dan 2013 adalah penyakit-penyakit yang sama menjangkiti laki-laki dan perempuan. Penyakit-penyakit tersebut adalah diabetes (meningkat sampai 166,9% untuk laki-laki, lalu 133,5% untuk perempuan), penyakit serebrovaskular (104,6% untuk laki-laki, 108,7% untuk perempuan), dan IHD (101,3% untuk laki-laki, dan 110,5% untuk perempuan).

Diabetes tidaklah termasuk dalam 10 penyebab utama masalah kesehatan untuk laki-laki atau perempuan pada tahun 1990.

Studi tersebut juga meneliti peran status sosio-demografis – kombinasi dari penghasilan per kapita, usia populasi, tingkat kesuburan, dan tahun rata-rata sekolah – dalam menentukan masalah kesehatan. Temuan para peneliti menggarisbawahi bahwa hal tersebut menjelaskan lebih dari setengah perbedaan yang tampak di banyak negara dan dari waktu ke waktu untuk penyebab utama DALY, termasuk gangguan pada ibu dan gangguan neonatal.

Namun, studi tersebut mencatat bahwa status sosio-demografis berdampak lebih sedikit pada variasi yang tampak pada penyakit, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes.

"Faktor-faktor yang mencakup pendapatan dan pendidikan memiliki dampak yang benar-benar memengaruhi kesehatan, namun tidak memberi penjelasan sepenuhnya," ujar Direktur IHME, Dr. Christopher Murray.

"Melihat harapan hidup sehat dan masalah kesehatan di tingkat negara dapat membantu memandu kebijakan untuk memastikan bahwa orang-orang dapat memiliki hidup yang panjang dan sehat di mana pun mereka tinggal,” imbuh Murray.

Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) adalah organisasi riset kesehatan global independen di Universitas Washington yang melakukan pengukuran secara teliti dan seragam terhadap masalah kesehatan utama dunia serta mengevaluasi strategi yang digunakan untuk mengatasinya.

Tujuan IHME menyebarluaskan informasi ini agar para penentu kebijakan memiliki bukti yang dibutuhkan untuk membuat keputusan terbaik mengenai alokasi sumber daya demi meningkatkan kesehatan penduduk secara lebih baik.

 

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check