Jemaah Haji Mesti Waspadai Cuaca Ekstrem di Arab Saudi

Jemaah Haji Mesti Waspadai Cuaca Ekstrem di Arab Saudi

26 Aug 2015

Dokterdigital.com - Tahun ini jumlah jemaah haji Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci berkisar 168.000 orang, kurang lebih sama seperti tahun 2014, sesuai kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi.

Hal utama yang harus diperhatikan oleh para jemaah haji saat ini adalah suhu Tanah Suci yang panas. Artinya, para calon jemaah haji harus mengantisipasi cuaca ekstrem yang ada saat ini di Arab Saudi, khususnya cuaca Madinah yang menjadi kota pertama yang akan dikunjungi oleh para jemaah pada kloter awal.

Praktisi kesehatan Ari Fahrial Syam mengatakan,  suhu saat ini di Madinah pada siang hari mencapai 42 derajat Celcius, sore hari 38 derajat Celcius, malam 32 derajat Celcius sedang pagi hari 36 derajat Celsius. Sedangkan kelembaban hanya 16  persen.

Ramalan cuaca di September diperkirakan suhu rata-rata terpanas mencapai 40 derajat Celsius, matahari terus bersinar selama 11 jam. Dibandingkan dengan suhu Jakarta saat ini yang hanya 33 derajat Celsius dengan kelembaban 49 persen, jelas bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara suhu udara dan kelembaban antara rata-rata kota di Indonesia dengan di Tanah Suci.

“Gangguan kesehatan yang paling sering terjadi dengan perbedaaan suhu dan kelembaban ini adalah terjadinya dehidrasi. Jika dehidrasi terus berlanjut disertai terpapar panas yang terus menerus maka akan berlanjut menjadi heat stroke, suatu gangguan kesehatan yang bisa berakibat kematian,” kata Ari, mantan Tenaga Kesehatan Haji Daerah dan Tenaga Kesehatan Haji Khusus-ONH Plus.

Kenali gejala awal pasien yang terkena heat stroke awal berupa kram otot, sakit kepala, rasa haus yang sangat, lelah tidak bersemangat, keringat yang berlebihan dan berkemih yang berubah menjadi  keruh dan kuning. “Gejala dan tanda awal ini harus dikenali oleh para jamaah dalam mengantisipasi cuaca panas saat ini di Tanah Suci,” imbuhnya.

Heat stroke (ada yang menerjemahkan dengan istilah pitam panas-red), kata Ari,  merupakan faktor penyebab utama orang mengalami kematian saat terpapar dengan suhu panas sekitar yang tinggi dalam waktu lama. “Jemaah berusia lanjut dan mempunyai penyakit kronis merupakan kelompok berisiko untuk mengalami heat stroke,” ujarnya.

Heat stroke merupakan kegagalan tubuh untuk melakukan pendinginan baik dengan cara berkeringat atau penguapan dari kulit akibat suhu panas sekitar. Kondisi heat stroke akan menyebabkan suhu tubuh naik sampai di atas 40 derajat Celsius disertai terjadinya penurunan kesadaran.

Kondisi buruk ini harus diantisipasi bagi para jamaah saat mulai berada di pesawat dan saat sampai di Arab Saudi. Untuk pencegahan kondisi yang bisa fatal ini, jemaah disarankan untuk terus minum agar tak jatuh ke dalam kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan yang akan memperburuk kesehatan akibat udara panas ekstrem tersebut.

“Selama di masjid usahakan untuk tetap minum, tempat-tempat penampungan minum yang berisi air zam-zam  selalu tersedia di dalam dan di seputar Masjid Nabawi,” ujar Ari, seraya menyarankan jemaah untuk menghindari minuman yang mengandung kafein seperti kopi karena malah memperberat dehidrasi.

“Jika buang air kecil menjadi lebih keruh dan berwarna kuning pekat  hal ini merupakan tanda bahwa kita harus meningkatkan untuk mengonsumsi air,”  urai Ari, yang juga dokter spesialis penyakit dalam divisi gasteroenterologi FKUI-RSCM.

Cek kesehatan rutin

Para jemaah haji juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan segera berhubungan dengan petugas kesehatan yang berada di kelompok penerbangan atau kloter apabila timbul masalah dengan kesehatan. Hal ini penting agar gangguan kesehatan yang terjadi  dapat segera diatasi dan tidak berlarut.

Ari menganjurkan sesama jemaah untuk selalu mengingatkan apabila ada anggota kelompoknya yang sakit untuk menghubungi petugas kesehatan yang memang seharusnya ada di kloter tersebut dan siap untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi jemaah haji.

Dengan memperhatikan dan mengantisipasi adanya udara panas mudah-mudahan para jemaah, khususnya rombongan kloter pertama yang langsung menuju kota Madinah, dapat tetap melaksanakan Sholat Arbain dengan baik. “Sekali lagi perlu diingat tujuan dari rangkaian perjalanan haji itu sendiri adalah puncak Ibadah Haji melaksanakan rukun dan wajib haji di Kota Mekah termasuk wukuf di Arafah. Oleh karena itu para jemaah harus tetap menjaga kesehatan sampai puncak ibadah haji di Padang Arafah dan tentunya untuk persiapan kembali ke Indonesia,” ujar Ari.

Tip cegah dehidrasi

Beberapa hal yang harus diperhatikan agar terhindar dari dehidrasi:

1. Selama di Arab Saudi, minum 3-4 liter air untuk cegah dehidrasi, lihat  warna urin untuk melihat apakah telah terjadi dehidrasi. Jika warna urin kuning tingkatkan jumlah minum yang dikonsumsi.

2, Hindari mengonsumsi kopi atau minuman lain yang mengandung kafein.

3. Hindari aktivitas yang tidak berhubungan dengan rangkaian ibadah terutama di udara terbuka karena cuaca panas. Karena cuaca ekstrem akan membuat seseorang akan lebih mudah mengalami kelelahan.

4. Hindari paparan langsung dari panas dengan menggunakan topi, payung, dan gunakan sunscreen (tabir surya) saat berada di luar ruangan.

5Tetap makan dan memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi. Jangan menunda untuk mengonsumsi jatah makanan yang baru dibagikan.

6. Banyak konsumsi sayur-sayuran dan buah yang banyak mengandung air.

7. Para jemaah menjaga agar bisa istirahat saat  sampai di penginapan.

8.  Segera konsultasi ke petugas kesehatan di kloter jika mempunyai permasalahan kesehatan terutama jika terjadi diare atau muah muntah atau demam yang akan memperburuk terjadinya dehidrasi.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check