Manfaat Edamame: Tingkatkan Kesuburan Hingga Redakan Depresi

Manfaat Edamame: Tingkatkan Kesuburan Hingga Redakan Depresi

24 Apr 2019

Dokterdigital.com - Saat bertandang ke restoran Jepang, hal yang tak kita lupakan adalah memesan edamame. Edamame merupakan camilan ringan yang nyaris sempurna. Sebagai hidangan pembuka, kacang polong berwarna hijau ini terasa nikmat disantap dengan ditaburi sedikit garam. Bahkan tanpa garam pun, edamame tetap enak disantap.

Edamame adalah kedelai muda yang dipanen sebelum kacangnya mengeras. Kita bahkan dapat membeli edamame dalam kondisi segar dan telah dikupas.

Secara alami, edamame bebas gluten dan rendah kalori, tidak mengandung kolesterol dan merupakan sumber yang sangat baik dari protein, zat besi, dan kalsium. Bagi yang menganut diet nabati atau vegetarian, edamame merupakan sumber protein nabati yang sangat penting.

Kandungan nutrisi

Edamame adalah sumber lengkap protein, artinya seperti halnya daging dan susu, bahan makanan ini menyediakan semua asam amino esensial yang dibutuhkan dalam diet. Asam amino esensial berarti tubuh manusia tak bisa membuatnya dan harus didatangkan dari luar, yaitu makanan.

Kacang kecil berwarna hijau segar ini juga tinggi lemak tak jenuh ganda yang sehat, terutama asam alfa linolenat omega-3.

Edamame adalah kedelai muda yang telah dipanen sebelum kacang memiliki kesempatan untuk mengeras.

Menurut USDA National Nutrient Database, satu cangkir (setara 155 gram) edamame beku, mengandung 189 kalori, 8 gram lemak (1 gram jenuh), 16 gram karbohidrat total (8 gram serat dan 3 gram gula) dan sisanya 17 gram protein.

Satu cangkir porsi edamame menyediakan 10% dari kebutuhan kalsium, 16% vitamin C, 20% besi, 52% vitamin K dan 121% dari kebutuhan harian untuk folat.

Edamame juga mengandung vitamin E, thiamin, riboflavin, niasin, B-6, asam pantotenat, choline (kolin), magnesium, fosfor, kalium, seng, tembaga dan mangan.

Ragam manfaat kesehatan

Mengonsumsi buah-buahan dan sayuran dari beragam jenis makanan telah lama dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai kondisi kesehatan yang dihubungkan dengan gaya hidup. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi makanan nabati seperti edamame mengurangi risiko obesitas dan mortalitas (kematian), diabetes, penyakit jantung dan meningkatkan kulit dan rambut sehat, menggenjot energi, menurunkan berat badan.

Isoflavon (sejenis senyawa yang disebut fitoestrogen), dalam makanan kedelai telah dikaitkan dengan penurunan risiko untuk osteoporosis, sedangkan kalsium dan magnesium dalam kedelai dapat membantu untuk mengurangi gejala PMS, mengatur gula darah dan mencegah sakit kepala migrain.

Konsumsi makanan berbasis kedelai juga telah dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah dari penyakit tertentu dan kondisi berkaitan dengan gaya hidup, serta meningkatkan kesehatan keseluruhan.

Berikut ini manfaat menyantap kedelai (termasuk edamame) seperti dirangkum Medical News Today:

1. Penyakit otak yang berkaitan dengan usia.

Berdasarkan temuan epidemiologi geografis, telah diamati bahwa populasi yang mengonsumsi jumlah kedelai dalam jumlah banyak secara umum sedikit mengalami gangguan mental yang berhubungan dengan usia.

2. Penyakit kardiovaskular.

Mengonsumsi protein kedelai sebagai alternatif protein hewani menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat), yang pada gilirannya menurunkan risiko aterosklerosis (pembentukan plak di dinding arteri) dan tekanan darah tinggi.

3. Kanker payudara dan prostat.

Genistein, isoflavon dalam kedelai dominan, mengandung sifat antioksidan yang menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Mengonsumsi makanan berbasis kedelai dalam jumlah sedang tidak mempengaruhi pertumbuhan tumor atau risiko wanita terkena kanker payudara. Bahkan, dengan makan setidaknya 10mg kedelai per hari dapat menurunkan kekambuhan kanker payudara sebesar 25%.

4. Depresi.

Kandungan folat pada edamame dapat membantu meminimalkan depresi dengan mencegah pembentukan homosistein berlebihan di tubuh. Kelebihan homosistein ini bisa mencegah darah dan nutrisi lain mencapai otak. Kelebihan produksi homosistein juga mengganggu produksi hormon yang membuat kita ‘merasa baik’ yaitu serotonin, dopamin, dan norepinephrin, yang mengatur tidak hanya suasana hati, tapi tidur dan nafsu makan.

5. Diabetes.

Orang yang menderita diabetes tipe 2 sering mengalami penyakit ginjal, menyebabkan tubuh mengeluarkan jumlah protein berlebih dalam urin. Bukti dari sebuah penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi hanya protein kedelai dalam dietnya, ternyata hanya mengeluarkan sedikit protein di urin ketimbang mereka yang makan protein hewani.

6. Kesuburan.

Pada wanita usia subur, mengonsumsi lebih banyak zat besi dari sumber tanaman seperti edamame, bayam, kacang-kacangan, labu, tomat, dan bit dipercaya bisa mempromosikan kesuburan, menurut Harvard Health Publications. Kecukupan asupan asam folat penting bagi wanita hamil untuk melindungi bayi terhadap cacat tabung (bumbung) saraf. Satu cangkir edamame per hari memberikan 121% dari kebutuhan folat sehari-hari.

7. Tingkat energi.

Tidak mendapatkan cukup zat besi dalam diet juga dapat mempengaruhi seberapa efisien tubuh menggunakan energi. Edamame adalah sumber besi non-heme yang cukup kaya, setara dengan lentil, bayam dan telur.

8. Peradangan.

Kolin merupakan nutrisi yang sangat penting dan serbaguna dalam edamame yang membantu tubuh dalam tidur, gerakan otot, belajar dan memori. Kolin juga membantu untuk mempertahankan struktur membran sel, membantu proses transmisi impuls saraf, melancarkan penyerapan lemak dan mengurangi peradangan kronis.

9. Osteoporosis.

Isoflavon kedelai dikenal dapat mengurangi kehilangan tulang dan meningkatkan kepadatan mineral tulang selama menopause, dan juga telah dilaporkan mampu mengurangi gejala-gejala menopause lainnya.

Efek samping

Lantas, apa kemungkinan risiko kesehatan mengonsumsi edamame? Risiko yang mungkin timbul dari makan edamame belakangan menjadi perdebatan, terutama yang berkaitan dengan topik kanker payudara. Tidak ada cukup bukti dari uji klinis manusia untuk mendukung klaim bahwa isoflavon dalam kedelai berkontribusi terhadap risiko kanker payudara.

Kedelai dan studi kanker yang memulai kontroversi itu hanya terkait dengan mereka yang memiliki kanker payudara jenis tertentu (reseptor estrogen positif). Beberapa studi awal menunjukkan kemungkinan peningkatan pertumbuhan tumor pada tikus  yang diberi asupan kedelai dalam jumlah tinggi. Peneliti melakukan penelitian lanjutan, dan menemukan bahwa tikus memetabolisme kedelai sama sekali berbeda dari manusia, membuat studi sebelumnya menjadi tidak valid.

Sekarang kita tahu bahwa mengonsumsi kedelai dalam jumlah sedang tidak mempengaruhi pertumbuhan tumor atau risiko wanita terkena kanker payudara. Bahkan, setidaknya 10mg kedelai per hari dapat menurunkan kekambuhan kanker payudara sebesar 25%.

Temuan dari model hewan juga menekankan ada korelasi positif antara pertumbuhan tumor dan derajat produk isoflavon yang telah mengalami pemrosesan. Oleh karena itu, lebih baik untuk mengonsumsi tahu dan makanan berbasis kedelai lainnya yang telah mengalami pemrosesan dalam jumlah minimal.

Menurut National Soybean Research Laboratory, tak seperti kedelai yang mengalami rekayasa genetika, semua produk edamame bersifat non-transgenik.

 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check