Ngobrol Kolesterol, Salah Kaprah Memantang Makanan

Ngobrol Kolesterol, Salah Kaprah Memantang Makanan

18 Nov 2020

Dokterdigital.com - Banyak orang berpantang makan daging merah, atau jerohan karena memiliki kadar kolesterol dalam darah tinggi, atau bahkan mereka memiliki risiko itu. Berpantang, kebanyakan dipersepsikan menghindari sama sekali menyentuh makanan atau minuman. Padahal, seharusnya tidak demikian.

Menurut praktisi kesehatan dan kolumnis di berbagai media massa mengenai kesehatan popular, Handrawan Nadesul, makna berpantang itu bukan berarti sama sekali tidak mengomsumsi suatu menu, melainkan membatasi. Mengapa? “Sejahat-jahatnya kolesterol, tubuh masih tetap membutuhkan untuk memelihara membran sel tubuh, membuat hormon, dan membantu menyimpan vitamin yang larut dalam lemak (A,D,E dan K). Fungsi otak sangat bergantung pada kehadiran kolesterol juga,” kata dokter yang kerap menjadi pembicara di berbagai seminar awam ini.

Alasan selanjutnya adalah, peran menu yang kita makan hanya sekitar seperlima dari produksi kolesterol oleh tubuh. Empatperlima dibuat oleh tubuh di organ hati, dengan catatan metabolisme lemak tubuh berlangsung normal. Tidak demikian bila ada gangguan metabolisme lemak. Misalnya bila ada turunan lemak dalam darah meninggi atau disebut hyperlipidemia, atau hyperlipoproteinemia.

Handrawan mengatakan, sejauh ini dikenal ada ratusan varian gen yang bisa diwarisi tubuh seseorang yang membuat metabolisme lemak tubuhnya abnormal atau kasus familial hyperlipoproteinemia. Salah satu yang sudah ditemukan adalah gen SCARB1.

Terjadi mutasi gen sehingga terjadi gangguan fungsi reseptor kolesterol jahat LDL (low density lipoprotein). Akibat kelainan ini, LDL tidak diubah oleh hati sehingga menumpuk dalam darah.

Ada sejumlah faktor lain yang ikut berperan dalam gangguan ini. Sebut saja faktor Apo-B dan Apo-E yang membantu LDL memasuki organ hati.

Ketahuan ada faktor genetik, imbuh Handrawan, kita membacanya dari hasil pemeriksaan lipid darah, melihat gugus VLDL (very low density lipoprotein), Apo-B dan Apo-E selain homosistein, dan beberapa lainnya. Mereka yang turunan lipid tinggi ada tanda xanthoma (seperti penggumpalan lemak) di area mata, selain benjolan lemak di sendi atau lengan.

Sedangkan untuk kasus yang turunan atau familial hyperlipoproteinemia, lazim disebut primary hyperlipoproteiemia. Sedangkan yang bukan sebab turunan dinamakan secondary hyperlipoproteinemia, yang bersifat lantaran keliru memilih gaya hidup, termasuk kegemukan, mengidap diabetik, ada gangguan ginjal, fungsi kelenjar gondok melemah (hypothyroidism), sedang hamil, atau kebanyakan minum alkohol.

“Artinya, mereka yang turunan lipid darah meninggi, peran faktor diet tidak terlalu menentukan. Kendati pantang tidak mengonsumsi menu berkolesterol pun tetap saja kolesterol darahnya meninggi terus, bahkan sangat tinggi,” jelas Handrawan.

Dia menambahkan, bedanya dengan yang bukan turunan, kadar kolesterol darah bisa beberapa kali lipat normal, mungkin 2-3 kali lipat. Begitu juga halnya dengan trigliserida (TG) yang sama jahatnya dengan kolesterol jahat LDL.

Sedangkan bila lipid meninggi bukan turunan, kenaikannya tidak setinggi yang turunan. Artinya, yang turunan harus bergantung obat antilipid sepanjang hayat agar kolesterol darahnya terkendali.

Kolesterol dan Penyakit Jantung Koroner

Kita tahu tingginya kolesterol berkorelasi dengan meningkatnya angka penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit pembuluh darah lainnya. Maka hanya dengan cara mengendalikan kadar kolesterol satu-satunya upaya mencegah risiko terserang jantung koroner dan atau stroke.

Lipid tinggi yang didapat atau bukan turunan dipengaruhi oleh asupan menu harian, khususnya lemak berkolesterol. Namun karena peran menu terhadap profil kolesterol hanya seperlima (empatperlima dibuat sendiri oleh hati), terus berkembang temuan baru, demi berupaya menekan agar kadar kolesterol darah (dan TG) tidak berpengaruh buruk pada jantung dan otak.

Betulkah kolesterol LDL harus ditekan di bawah 100 supaya tidak berdampak jantung koroner dan atau stroke? Atau, benarkah harus berpantang kolesterol mutlak sama sekali tidak boleh mengonsumsinya?

“Kita melihat metabolisme lemak menempuh proses yang melibatkan beberapa unsur lain, termasuk kehadiran mineral, vitamin, dan enzim, maka tidak sesederhana hanya fokus pada soal diet lemak belaka. Yang pasti tubuh masih membutuhkan kolesterol juga, butuh lemak jenuh juga selain lemak tidak jenuh supaya fungsi tubuh berlangsung normal,” urai Handrawan.

Soal terbentuknya tumpukan lemak pada dinding pembuluh darah atau disebut plaque (plak) yang menyebabkan tersumbatnya pembuluh koroner dan atau otak, bukan melulu peran lemak darah. Ada faktor gabungan, termasuk adakah radikal bebas, cukupkah vitamin dan mineral dan trace-elements tertentu. Juga adakah peradangan pembuluh darah, faktor hipertensi, faktor diabetik, faktor polusi, dan faktor lainnya.

Soal apakah diperbolehkan bebas mengonsumsi semua menu berkolesterol, menurut Handrawan, perlu pengamatan masing-masing individu. “Selama bersikap tahu batas makan, serba seimbang, tak mungkin sekali makan udang satu kilogram, atau sekali makan kepiting 3 ekor, atau cumi sampai berkilo-kilo,” ujarnya.

“Selama masih dalam batas kewajaran, saya pikir tidak bermasalah. Kita sendiri bisa mengamati, apakah setiap kali kita mengonsumsi semua menu berkolesterol (otak, jerohan, telur, udang, kepiting, cumi) sangat meninggikan kolesterol darah kita?” imbuhnya.

Berapa Banyak Tubuh Butuh Kolesterol?

Tubuh butuh sekitar 550 mg kolesterol/hari. Sebutir telur menyumbang sekitar 275 mg kolesterol. Sedangkan telur dinilai sebagaisumber menu berkualitas karena kandungan asam amino terlengkap, selain ada studi yang menemukan 4 butir telur seminggu bisa menekan risiko DM tipe 2. “Selama mengonsumsi telur tidak mengungkit kolesterol darah, saya pikir telur masih menu primadona bagi tubuh,” jelas Handrawan.

Satu catatan, masih ada persepsi yang keliru ihwal kolesterol dan lemak jenuh. Daging kambing, durian, alpukat, tidak tinggi kolesterolnya. Sama tidak tingginya dengan daging ternak lainnya. “Jadi keliru takut makan satai kambing, takut makan durian karena alasan kolesterol yang bikin stroke atau serangan jantung. Tak masuk nalar medis,” ujar dia.

Yang kaya kolesterol itu menu otak hewan, dan jerohan. Namun tidak mungkin sehabis mengonsumsi gulai otak, atau soto babat, sop iso (usus), atau coto makassar, langsung bikin stroke atau serangan jantung.

Handrawan menambahkan, kadar kolesterol yang meninggi sehabis mengonsumsi menu berkolesterol tentu perlu waktu untuk meningkatkan kolesterol dan trigliserida. Bukan pula karena meningginya kolesterol dan trigliserida yang akan langsung mencetuskan serangan jantung koroner dan atau stroke, melainkan pembiaran tingginya kolesterol dan atau trigliserida untuk waktu lama, sampai puluhan tahu.

Setelah sumbatan pembuluh menutup lebih separuh penampang pembuluh,baru memunculkan serangan koroner, dan atau stroke.

“Jadi serangan jantung sehabis makan menu kolesterol tidak masuk nalar medis kalau dijadikan kambing hitam. Namun bahwa serangan koroner sering terjadi di meja makan, seperti juga saat pidato, saat olahraga, saat buang hajat, karena itu semua faktor pencetusnya, dan bukan penyebabnya,” pungkasnya.

 

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check