Kenali Bahaya Konsumsi Obat Barengan dengan Suplemen

Kenali Bahaya Konsumsi Obat Barengan dengan Suplemen

16 Jan 2020

Dokterdigital.com - Hindari mengonsumsi obat beriringan dengan suplemen karena bisa jadi muncul efek samping yang berbahaya.

Mengonsumsi suplemen diet dan obat herbal bersamaan dengan makan obat seperti aspirin tidak disarankan, karena bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya.

Interaksi antara obat yang diresepkan dan suplemen herbal atau diet bisa menyebabkan komplikasi termasuk masalah jantung, sakit di bagian dada dan perut, menurut sebuah ulasan atas bukti yang ada, demikian diberitakan The Telegraph.

Obat herbal dan suplemen seperti magnesium, kalsium, zat besi, dan ginkgo bisa menyebabkan masalah besar, menurut riset yang dipublikasikan di International Journal of Clinical Practice.

Para pakar dari China Medical School di Taiwan mempelajari data dari 54 artikel ulasan dan 31 penelitian independen yang melibatkan 213 suplemen herbal dan diet dan 509 obat yang diresepkan. Total 882 kaitan efek diamati, dengan warfarin, insulin, aspirin digoxin, dan ticlopidine di antara obat-obatan yang paling banyak berefek.

Biji rami, echinacea, dan yohimbe, pendorong dan zat perangsang birahi yang ditemukan di Afrika, adalah bahan herbal yang ditemukan menyebabkan interaksi dalam jumlah yang besar dengan obat.

Dalam hampir setengah kasus, interaksi obat terjadi ketika bahan dalam suplemen berubah dalam cara obat diserap dan menyebar di seluruh tubuh, bermetabolisasi, dan kemudian keluar dari sistem.

Seperempat dari kejadian ini digambarkan sebagai “interaksi besar” dengan sistem pencernaan dan sistem saraf yang paling banyak terpengaruh.

“Konsumen menggunakan suplemen herbal dan diet telah naik secara dramatis selama lebih dari dua dekade sebelumnya. Di luar penggunaannya yang menyebar, risiko potensi yang terkait dengan mengkombinasikan suplemen herbal dan diet dengan pengobatan lainnya, yang menyebabkan masalah jantung dari yang ringan hingga parah, sakit di bagian dada, perut, dan kepala,” ujar Lin.

Dalam sebuah artikel editorial yang terkait, Prof Edzard Ernst dari Universitas Exeter mengatakan bahwa survei dari masa ke masa memperlihatkan proporsi populasi yang besar yang mencoba mengobati secara alami untuk pencegahan penyakit. “Kebanyakan pakar kemudian setuju bahwa potensi atas interaksi semacam itu besar,” ujar Ernst.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check