Inilah Risiko Mencukur Rambut Pubis

Inilah Risiko Mencukur Rambut Pubis

17 Dec 2014

Dokterdigital.com - Rambut pubis alias rambut kemaluan juga mengikuti tren. Menjamurnya bikini dan celana dalam model thongs membuat rambut yang tidak teratur di area kemaluan perlu dipangkas, dirapikan. Namun ada juga yang percaya, memotong rambut pubis secara teratur demi alasan kesehatan, misalnya, menghindari munculnya kutu, jika rambut kemaluan terlalu lebat dan tebal.

Menurut Medical Affairs Manager Sanofi dr. Dian Wijayanti, merapikan rambut kemaluan boleh-boleh saja. “Tapi jangan dicukur habis, karena rambut kemaluan diciptakan memiliki fungsi perlindungan,” kata Dian di sela-sela peluncuran produk Lactacyd White Intimate di Jakarta, hari ini.

Nah, sebelum Anda membabat rambut kemaluan, lebih baik kenali risikonya biar tak menyesal di belakang hari. Menurut website KevinMD.com, sejak dulu ahli bedah sudah tahu bahwa mencukur bagian tubuh sebelum operasi malah benar-benar meningkatkan – alih-alih menurunkan – infeksi luka operasi.

Tidak peduli seberapa mahal atau kompleks peralatan yang digunakan, pisau cukur, alat cukur listrik, pinset, waxing, obat perontok, atau agen lain, rambut pubis akan selalu tumbuh kembali. Namun efek dari membabat habis rambut kemaluan ini menelan ongkos, kulit di area pubis aan merasakan akibatnya.

Membabat habis rabut kemaluan akan meninggalkan luka terbuka, hingga iritasi. Nah, iritasi ini apabila dikombinasikan dengan lingkungan lembab hangat dari alat kelamin, menjadi medium kultur empuk  untuk beberapa bakteri patogen, yaitu Grup A Streptococcus, Staphylococcus aureus dan yang baru-baru ini bermutasi adalah ‘sepupu’ methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Terbukti pada rambut kemaluan yang dicukur habis, ada peningkatan bisul dan nanah akibat bakteri Staph. Untuk mengobatinya butuh sayatan untuk mengeringkan infeksi, sehingga meninggalkan jaringan parut terlihat. Tidak jarang, ditemukan lepuhan akibat peradangan folikel rambut di area kelamin sehabis dicukur.

Selain itu, bisa muncul selulitis (infeksi bakteri jaringan lunak tanpa abses/nanah) dari skrotum, labia dan penis sebagai akibat dari penyebaran bakteri dari mencukur atau dari kontak seksual dengan bakteri Strep atau Staph dari kulit pasangan.

Beberapa dokter menemukan bahwa daerah kemaluan yang baru dicukur dan alat kelamin juga lebih rentan terhadap infeksi herpes karena luka mikroskopis terkena virus yang dibawa oleh mulut (jika melakukan seks oral)  atau alat kelamin. Oleh karena itu mungkin ada kerentanan terhadap penyebaran penyakit menular seksual yang lain juga.

Rambut kemaluan tercipta sudah tentu memiliki tujuan, menyediakan bantalan terhadap gesekan yang dapat menyebabkan abrasi kulit dan cedera, perlindungan dari bakteri dan patogen lainnya yang tidak diinginkan, dan merupakan hasil nyata dari hormon remaja. Jadi tak usah malu memiliki rambut kemaluan.

Sudah saatnya untuk menyatakan mengakhiri perang pada rambut kemaluan, dan membiarkannya untuk tumbuh. Bahkan, aktris Cameron Diaz lantang menyuarakan, menumbuhkan rambut kelamin apa adanya.

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check