Status Kesehatan Bisa Diteropong dari Kaki, Lho

Status Kesehatan Bisa Diteropong dari Kaki, Lho

24 May 2018

Dokterdigital.com - Kaki ternyata bisa menggambarkan status kesehatan kita. Dari mulai pinggul hingga jari-jari kaki, kaki (tungkai) kita adalah jaringan yang terdiri lebih dari 60 tulang yang berbeda yang membantu kita menavigasi dari titik A ke titik B setiap hari.

Tungkai adalah objek dari keinginan untuk laki-laki dan perempuan, karena dianggap sebagai salah satu elemen yang paling penting dari rayuan. Kaki yang proporsional bisa membikin iri. Namun apa yang bisa diungkap dari kaki selain daya tarik seksualnya?

Melemahnya tubuh bagian bawah adalah hal yang umum, karena seiring pertambahan usia kita cenderung mengurangi jumlah aktivitas fisik dan sosial. Kekuatan cenderung memuncak sekitar 25 tahun dan berlanjut sampai 35 atau 40 tahun, dan kemudian mulai menurun dengan cepat mencapai 25 persen dari kekuatan puncak pada usia 65, menurut laman Sportsci.org.

Namun, ternyata kaki dapat memberitahukan status kesehatan seseorang sehingga kita dapat menjaga kinerja yang optimal. Nah, mari bersama-sama kita teropong kondisi kaki dan apa implikasinya bagi kesehatan:

1. Kaki pendek, tubuh bagian atas lebih panjang

Badan panjang disertai dengan kaki pendek terlihat ketika jarak dari "terakhir" tulang rusuk ke atas tulang pinggul adalah 4 inci atau lebih besar, sedangkan panjang dari lutut sampai mata kaki kurang dari panjang dari lutut ke pinggul. Meskipun proporsi ini dapat membantu atlet memiliki pusat gravitasi yang lebih rendah dan kemampuan yang lebih baik untuk mengubah arah dengan cepat, bisa juga berarti peningkatan risiko penyakit jantung. Sebuah studi 2001 yang diterbitkan dalam Journal of Epidemiology & Community Health menemukan bahwa untuk setiap setengah inci kaki yang lebih pendek dalam proporsi laki-laki lain dengan tubuh bagian atas sama-panjang, Anda memiliki risiko 10 persen lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner.

Temuan ini menunjukkan panjang kaki adalah komponen tinggi yang terkait dengan resistensi insulin dan risiko penyakit jantung koroner. Kondisi remaja atau anak-anak adalah pengaruh yang penting, mengingat faktor-faktor yang mempengaruhi panjang kaki di masa dewasa meliputi gizi. Pengaruh lain adalah pada pertumbuhan pada awal kehidupan, dan pengaruh genetik dan epigenetik. Hal ini mendukung literatur medis lain yang telah menemukan korelasi antara tinggi dewasa dan risiko penyakit jantung koroner.

2. Kaki panjang

Baik pria maupun wanita menganggap kaki panjang menjadi daya tarik, tetapi ilmu di balik preferensi ini tetap menjadi misteri, sampai temuan baru-baru ini. Kaki panjang diduga menjadi tanda bawah sadar yang bersangkutan mendapatkan  gizi yang baik dan meniingkatkan kesuburan. Sebuah studi 2008 yang diterbitkan dalam jurnal Evolution and Human Behavior menemukan panjang kaki merupakan indikator yang baik dari nutrisi, karena kaki berhenti tumbuh setelah perempuan mencapai pubertas. Jika seorang wanita memiliki kaki panjang, dia kemungkinan besar dibesarkan di lingkungan yang baik, yang dapat memiliki efek positif pada kesuburan.
 

3. Kaki kekar

Kaki kekar atau tebal mungkin bukan semata kekhasan fisik, tetapi juga bisa menjadi tanda peringatan fisik penyakit hati. Wanita dengan lebar kaki antara 20 dan 29 inci cenderung memiliki tingkat yang lebih tinggi dari empat enzim, yaitu alanine aminotransferase (ALT), gamma-glutamyltransferase (GGT), aspartate transaminase (AST), dan alkaline phosphatase (ALP), yang menunjukkan penyakit hati, menurut sebuah studi tahun 2008 yang diterbitkan dalam Journal of Epidemiology & Community Health. Para peneliti percaya bahwa gizi anak-anak tidak hanya mempengaruhi pola pertumbuhan, tetapi juga pengembangan hati di masa dewasa.

Selain itu, orang-orang dengan kaki yang pendek dan kekar juga 20 persen lebih rentan terhadap diabetes tipe 2. Sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam jurnal Diabetes Care menemukan kaki pendek berkorelasi positif dengan diabetes. Namun, menjadi pendek tidak mempengaruhi risiko diabetes setelah disesuaikan untuk faktor-faktor lain, tetapi memiliki rasio kaki pendek dibandingkan dengan tinggi dikaitkan dengan risiko sedikit lebih tinggi dari diabetes tipe 2.
 

4. Paha berisi

Paha yang berisi (gemuk) bisa menjadi gangguan, tetapi paha yang tidak kurus bisa membantu menjalani kehidupan yang panjang dan hangat. Sebuah studi 2009 yang diterbitkan dalam British Medical Journal menemukan lingkar paha sekitar 24,4 inci adalah yang paling protektif terhadap kematian dini atau penyakit jantung pada pria dan wanita, sedangkan paha yang lebih besar memberikan sedikit (jika ada), manfaat tambahan, dan paha tipis (kurus) yang terkait dengan risiko semakin tinggi.

"Potongan tubuh ala model (yang rata-rata memiliki paha kurus) tampaknya lebih berisiko dibandingkan seseorang dengan ukuran rata-rata. Ini bisa jadi bahwa paha terdiri terutama dari otot yang memiliki efek positif pada mengatur insulin dan peradangan,” kata Profesor Berit Heitmann, penulis utama studi di Copenhagen University Hospital, seperti dilaporkan The Telegraph. Karena peneliti mengukur ukuran paha tapi bukan komposisinya, mereka tidak dapat mengetahui apakah manfaat perlindungan dari paha berisi adalah karena lebih banyak otot, lemak, atau keduanya.

5. Kaki nyeri

Kram otot di paha atau betis saat berjalan, naik tangga, atau berolahraga bisa menjadi tanda penyakit arteri perifer (PAD), pengerasan arteri dalam sistem peredaran darah. PAD terkait nyeri sering hilang ketika kita berhenti berolahraga, tapi sakit kaki yang tidak hilang pasca latihan bisa menunjukkan PAD parah, demikian menurut American Heart Association.

Kondisi ini terjadi pada arteri yang membawa darah ke lengan dan kaki. Faktor risiko untuk PAD termasuk merokok, diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi -- di antara banyak lainnya.

Nah, cek kondisi kaki masing-masing ya.

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check