Heat Stroke Pantang Diabaikan, Bisa Fatal!

Heat Stroke Pantang Diabaikan, Bisa Fatal!

25 Nov 2014

Dokterdigital.com - Pernah dengar tentang heat stroke? Kondisi yang kerap menimpa para atlet, atau mereka yang keranjingan olahraga ini ternyata pantang diabaikan.

Heat stroke adalah keadaan dimana terjadi gangguan yang serius terhadap kesehatan yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam mengatasi suhu yang tinggi. Menurut dokter spesialis olahraga Michael Triangto, gangguan yang mungkin muncul adalah heat cramps, heat syncope, heat exhaustion yang dapat terjadi karena gangguan cairan ataupun garam. "Yang terberat adalah heat stroke," kata Michael dalam keterangan tulisnya.

Dari namanya, heat cramps akan menyebabkan gangguan kejang otot baik pada anggota gerak ataupun otot-otot daerah perut. Pada heat syncope biasanya penderita merasakan kelemahan yang menyeluruh/umum, kelelahan, tekanan darah menurun, pucat, pandangan kabur, keringat dingin, suhu tubuh yang meningkat sampai dengan pingsan.

Sedangkan heat exhaustion ditandai oleh berkurangnya produksi keringat, lidah dan mulut kering, haus akibat kekurangan cairan yang bertambah serius. Gejala dari heat exhaustion akibat gangguan garam ditandai dengan sakit kepala, mual, muntah, diare, kram otot bahkan juga pingsan. “Kelainan ini terkadang tidak diketahui dan mungkin saja baru muncul setelah 3-5 hari kemudian,” ujar Michael yang juga menjabat direktur di Rumah Sakit Kemayoran Jakarta.

Heat stroke membutuhkan penanganan medis yang adekuat (memadai) karena keadaan ini akan mengganggu kerja dari otot-otot, enzim, jantung, hati, saraf, otak dan juga ginjal dalam bentuk kejang, gangguan kesadaran sampai dengan koma dan gagal ginjal yang dapat membawa penderita pada kematian. 

Umumnya orang normal pada saat mengalami kelelahan dan kejang otot akan langsung berhenti dan mencari tempat berteduh namun bagi yang mendapatkan "intruksi" atau perintah untuk tetap berlatih sebagaimana pada keadaan masa bimbingan pelajar, tentunya tak dapat berhenti begitu saja terlebih lagi jika ia terus mendapatkan tekanan dari para instruktur.

Hal yang sama terjadi pada para atlet yang "high motivated" untuk tetap menyelesaikan perlombaan akan terus berlari dipanas terik meski sudah dalam keadaan tidak sehat tentunya akan menyebabkan terjadinya heat stroke tadi. 

Untuk penanganannya tentunya lebih pada mengenali kondisi fisik sebelum berlomba atau berlatih. Kondisi tubuh yang sebelumnya sudah dehidrasi yang ditandai dengan kurangnya urin dan warna yang gelap tentunya berlatih di bawah panas terik akan menyebabkan munculnya heat stroke.

Seorang yang kegemukan yang dipastikan memiliki kadar lemak yang tinggi akan lebih mudah mengalami dehidrasi, begitu juga usia yang terlalu muda atau terlalu tua, juga akan rentan mengalami heat stroke akibat dehidrasi.

Orang yang sebelumnya tidak sehat dan terus memaksakan untuk berlatih juga akan menyebabkan munculnya gejala heat stroke

Pola kebiasaan untuk minum dan jenis minuman yang digunakan juga berperan untuk mencegah munculnya gejala-gejala gangguan kesehatan seperti yang dipaparkan tadi. Hal lainnya adalah faktor cuaca termasuk suhu, kelembaban, angin, posisi matahari juga perlu mendapat perhatian baik para peserta lari dan juga panitia.

Untuk penanganan penderita yang mengalami heat stroke, harus disesuaikan dengan keadaan yang ada pada saat itu namun secara umum dapat dilakukan rehidrasi cairan dan elektrolit.

“Tindakan lainnya adalah usaha menurunkan suhu tubuh dan meminimalkan kerusakan organ tubuh lainnya misalnya rhapdomyolisis atau kerusakan otot, ginjal, hati, otot dengan  mengatasi gejala lain yang muncul seperti diare, muntah, kejang, gagal ginjal, agar tidak terjadi kerusakan yang permanen,” pungkas Michael.


 

2019 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check