Daftar Makanan Biang Penyebab Timbunan Lemak Perut

Daftar Makanan Biang Penyebab Timbunan Lemak Perut

06 Dec 2019

Dokterdigital.com - Lemak di bagian perut bukan saja ‘merusak’ penampilan, namun memiliki implikasi kesehatan serius. Memiliki kelebihan lemak perut merupakan faktor risiko untuk mengembangkan penyakit kronis seperti penyakit jantung.

Bahkan, lemak yang ditimbun di perut sebenarnya jauh di dalam tubuh mengelilingi sekitar organ internal. Sebagai contoh, lemak perut yang terletak di dekat vena portal di hati memengaruhi produksi lipid darah seperti kolesterol total dan LDL (kolesterol jahat) serta berdampak pada resistensi insulin. Untuk mengurangi risiko kesehatan negatif, menghindari makanan tertentu yang menghasilkan lemak perut sangat dianjurkan.

Lantas, jenis makanan apa saja yang sebaiknya dhindari, atau minimal dikurangi, untuk menghindari timbunan lemak perut? Livestrong.com merangkumnya sebagai berikut:

1. Karbohidrat olahan
Karbohidrat olahan adalah biji-bijian yang telah diproses oleh mesin. Selama pengolahan, vitamin, mineral, serat dan nutrisi lainnya dihilangkan. Makanan ini terdiri dari apa pun yang dibuat dari tepung, jagung giling atau beras putih, roti putih termasuk, keripik, kue, biskuit, donat, muffin, dan sereal.

Pada September 2010, American Journal of Clinical Nutrition melaporkan, "asupan tinggi dari biji-bijian olahan berhubungan dengan jaringan adiposa viseral lebih tinggi (lemak perut)." Makanan yang tinggi dalam karbohidrat olahan mungkin tampak mengundang selera, tapi jenis makanan ini mengandung nilai gizi yang sangat sedikit. Aturan umum yang perlu diketahui adalah, semakin halus atau "putih" makanan berbasis biji-bijian, maka semakin rendah pula serat dan kandungan nutrisinya.

2. Gula
Konsumsi gula juga dihubungkan dengan kelebihan lemak perut. Gula tidak hanya ditemukan dalam permen, kue dan kue, tetapi juga terdapat dalam jeli, buah kaleng, saus salad dan baahkan makanan kesehatan seperti yoghurt dan jus buah. Menurut Robert Lustig, MD, UCSF, neuroendokrinolog anak, "Gula menggerakkan penyimpanan lemak dan membuat otak berpikir soal lapar, menyebabkan lingkaran setan."

Selain itu, gula sangat adiktif. Mendambakan gula dan efek nagihnya bisa sama intens seperti penarikan morfin. Pada Juni 2002, sebuah studi dalam jurnal Obesity Research mengungkapkan, "Asupan gula berlebihan dan berulang menyebabkan tanda-tanda perilaku dan neurokimia penarikan (ketagihan) opioid. Kecemasan itu mirip dengan penarikan dari morfin atau nikotin, menunjukkan ketergantungan gula."

3. Soda
Minum soda dikaitkan dengan obesitas dan secara signifikan dapat mengganggu kesehatan fisik. Selain sukrosa, soda mengandung sirup jagung tinggi fruktosa. Menelan sirup jagung tinggi fruktosa menyebabkan peningkatan abnormal pada lemak tubuh, terutama di perut, dan menyebabkan peningkatan sirkulasi lemak darah yang disebut trigliserida.

Pada Maret 2010, Princeton University melakukan penelitian pada tikus yang mengungkapkan, "Tikus dengan diet kaya sirup jagung tinggi fruktosa (untuk 6 bulan) menunjukkan tanda-tanda karakteristik kondisi berbahaya yang dikenal pada manusia sebagai sindrom metabolik, termasuk kenaikan berat badan tidak normal, peningkatan yang signifikan dalam peredaran trigliserida dan ditambah penumpukan lemak, khususnya lemak visceral sekitar perut. "

4. Makanan cepat saji
Konsumsi makanan cepat saji juga dikaitkan dengan lemak perut. Menariknya, orang yang tinggal atau bekerja di dekat restoran cepat saji akan meningkat risikonya menjadi obesitas. UC Berkeley melaporkan pada Januari 2009, "Ada pengaruh yang signifikan kedekatan dengan sebuah restoran makanan cepat saji pada risiko obesitas."

Selain dari yang dibuat dengan karbohidrat olahan, gula dan sirup jagung, makanan cepat saji juga dimasak dalam minyak jenuh yang tidak sehat seperti minyak jagung. Bahkan, diet kaya lemak jenuh menginduksi peningkatan relatif dalam jumlah jaringan lemak perut. Memilih alternatif sehat di rumah makan siap saji, seperti membungkus ayam atau salad, dapat mengurangi risiko paparan bahan berbahaya.***

2020 © DokterDigital.com
tes button
Loading Dokter Digital - Mohon tunggu sebentar
check